Bitcoin Naik 6%, Indodax: Rally Dipicu Geopolitik dan Lonjakan Permintaan

wartaekonomi.co.id
10 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Lonjakan harga Bitcoin hingga 6% mendekati level US$75.000 pada Senin (13/4) dipicu dinamika geopolitik di Selat Hormuz, termasuk kebijakan Iran yang mewajibkan pembayaran “tol” dalam Bitcoin bagi kapal tanker. Fenomena ini memicu short squeeze besar dan memperkuat peran kripto dalam sistem ekonomi global, menurut Indodax.

Kenaikan harga tersebut terjadi setelah blokade Selat Hormuz oleh Amerika Serikat yang direspons Iran dengan kebijakan pembayaran berbasis Bitcoin untuk jalur pelayaran strategis tersebut. Kebijakan ini menciptakan permintaan instan terhadap Bitcoin, sekaligus mendorong likuidasi posisi short bernilai ratusan juta dolar.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyatakan lonjakan harga mencerminkan meningkatnya fungsi kripto sebagai instrumen dalam menghadapi tekanan global.

“Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi, dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai. Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” ujar Antony, dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu (15/4/2026). 

Iran menetapkan tarif setara US$1 per barel dalam bentuk Bitcoin bagi kapal tanker, yang digunakan sebagai mekanisme pembayaran berbasis blockchain. Skema ini dinilai sebagai upaya menjaga kelancaran transaksi sekaligus menghindari sistem keuangan yang berada dalam pengawasan Amerika Serikat.

Baca Juga: Pajak Kripto Tembus Rp1,96 T, Indodax Sumbang 46%

Baca Juga: Bitcoin Menguat Saat Konflik Timur Tengah Memanas, Emas dan S&P 500 Tertekan! Indodax: Mirip Pandemi

Baca Juga: Jepang Akan Klasifikasikan Bitcoin Cs Jadi Produk Keuangan

Di sisi lain, data inflasi Amerika Serikat yang meningkat menjadi 3,3% pada 10 April turut memperkuat sentimen pasar. Kenaikan inflasi ini mendorong ekspektasi tekanan terhadap mata uang konvensional dan meningkatkan minat investor terhadap aset alternatif, termasuk kripto.

Selain faktor geopolitik dan inflasi, arus dana masuk ke ETF Bitcoin spot juga memperkuat momentum harga. Sepanjang Maret hingga April, inflow tercatat mencapai sekitar US$1,94 miliar, memberikan dukungan likuiditas pada pasar.

Penguatan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Data CoinMarketCap menunjukkan Ethereum (ETH) naik 8% ke level US$2.380, Solana (SOL) menguat 5,2% ke US$86,60, dan BNB naik 3,2% ke US$615,50.

Menurut Antony, dinamika ini menandai pergeseran peran kripto dalam sistem ekonomi global.

“Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang penting, karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global,” tambahnya.

Meski demikian, Antony mengingatkan volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Faktor likuiditas menjelang rilis data ekonomi Amerika Serikat, termasuk Producer Price Index, serta perubahan kebijakan moneter dapat memengaruhi pergerakan harga jangka pendek.

Secara historis, April merupakan periode positif bagi Bitcoin dengan rata-rata kenaikan 69% sejak 2013. Hingga kuartal II/2026, Bitcoin tercatat menguat 8,64%.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Baleg tindak lanjuti putusan MK soal kerugian negara
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Wamendikdasmen Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Pelecehan Seksual dan Perundungan di Sekolah
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
DPR Minta Pemerintah Tak Jadikan BPKH sebagai Opsi Talangi Kenaikan Harga Penerbangan Haji 2026
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Antam Borong 100% Emas Freeport di 2026
• 19 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Mensos Pastikan 11 Juta Peserta PBI JK yang Masih Nonaktif Tetap Dilayani Bila Sakit
• 7 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.