FAJAR, MAKASSAR– Kabar revolusioner datang dari dunia medis. Harapan baru kini menyapa para penderita diabetes yang berjuang melawan luka kronis. Peneliti dari University of California, Riverside (UCR), baru saja memperkenalkan sebuah inovasi berupa gel penghasil oksigen yang diklaim mampu menyembuhkan luka parah dan mencegah risiko amputasi.
Masalah luka yang tak kunjung sembuh, atau sering disebut luka kronis, memang menjadi momok bagi penyandang diabetes dan lansia. Namun, teknologi “gel ajaib” ini diprediksi akan menjadi pengubah permainan (game changer) dalam dunia kesehatan.
Mengapa Luka Diabetes Sulit Sembuh?
Secara medis, luka dikatakan kronis jika tidak menunjukkan tanda-tanda membaik dalam waktu satu bulan. Masalah utamanya adalah hipoksia, yaitu kondisi di mana oksigen tidak bisa mencapai lapisan jaringan terdalam yang rusak. Tanpa oksigen, sel-sel tubuh tidak punya “bahan bakar” untuk melakukan regenerasi. Alhasil, luka malah menjadi sarang bakteri, meradang, hingga berakhir pada pembusukan jaringan yang berujung amputasi.
Teknologi Gel dengan “Baterai Alat Bantu Dengar”
Inovasi dari tim yang dipimpin oleh Prof. Iman Noshadi ini bukan sekadar salep biasa. Gel ini bekerja layaknya perangkat elektrokimia mini. Berikut adalah beberapa keunggulannya:
- Berbasis Air dan Kolin: Materialnya sangat fleksibel, tidak beracun, dan bersifat antibakteri.
- Didukung Baterai Kecil: Menggunakan baterai sekecil baterai alat bantu dengar, gel ini mampu memecah molekul air untuk melepaskan aliran oksigen secara terus-menerus tepat di titik luka.
- Adaptif: Sebelum mengeras, gel akan mengisi celah-celah luka yang tidak rata, memastikan oksigen menjangkau area paling sulit sekalipun.
- Tahan Lama: Sistem ini mampu menjaga pasokan oksigen hingga satu bulan, memberikan waktu bagi pembuluh darah baru untuk terbentuk.
“Luka kronis tidak bisa sembuh sendiri. Ada empat tahap penyembuhan, dan kekurangan oksigen yang stabil adalah hambatan terbesar di setiap tahapnya,” jelas Prof. Noshadi.
Hasil Uji Coba yang Menjanjikan
Dalam pengujian pada tikus yang menderita diabetes (yang memiliki karakteristik luka mirip manusia), hasilnya sangat mengejutkan. Luka yang biasanya berakibat fatal atau tak kunjung sembuh, berhasil menutup sempurna hanya dalam waktu 23 hari setelah diberikan perawatan gel oksigen ini. Ulasan medis Science Daily, menjelaskan, selain menyuplai oksigen, kandungan kolin dalam gel tersebut juga membantu menenangkan peradangan berlebih yang sering terjadi pada pasien diabetes.
Bukan Sekadar Luka, Bisa untuk “Cetak” Organ Manusia
Potensi teknologi ini ternyata lebih luas. Para peneliti menyebut bahwa gel oksigen ini bisa menjadi jembatan untuk menumbuhkan organ tubuh di laboratorium. Selama ini, membuat organ buatan yang tebal sangat sulit karena sel di bagian dalam sering mati kekurangan oksigen. Gel ini bisa menjadi solusinya!
Inovasi ini diharapkan segera masuk ke tahap uji klinis manusia agar dapat menekan angka 12 juta kasus luka kronis di seluruh dunia, di mana satu dari lima pasiennya terpaksa harus kehilangan anggota tubuh akibat amputasi. (*Nin)





