TANGERANG SELATAN, KOMPAS.com - Warga Citra Prima Serpong, Kranggan, Setu, Tangerang Selatan, menyebut banjir di wilayah tempat tinggal mereka mulai terjadi setelah adanya pembangunan perumahan di lahan yang sebelumnya area resapan air.
Ketua RW 06 Kranggan, Yahya Sunarja, mengatakan bahwa sebelum pembangunan perumahan dilakukan, wilayahnya tidak pernah mengalami banjir.
"Kalau perumahan ini kan dari 2009 ya. Dan perumahan ini dulu itu sebelum ada Perumahan Serpong Lagoon itu enggak ada banjir. Kalau dulu itu, di situ (lahan di Serpong Lagoon) semacam danau, jadi enggak pernah ada banjir di sini," ujar Yahya saat ditemui Kompas.com di Citra Prima Serpong, Rabu (15/4/2026).
Baca juga: Pria yang Palak Penjaga Warteg di Bekasi Diduga Alami Gangguan Jiwa
Menurut dia, banjir mulai dirasakan warga sekitar 2011 seiring berdirinya perumahan di kawasan tersebut.
Saat itu banjir mulai merendam kawasan Citra Prima Serpong hingga mencapai dua meter meski hujan terjadi dalam waktu singkat. Waktu surutnya pun lebih lama dibandingkan saat ini.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi sebelum dibangunnya turap dan pemasangan dua pompa air, yang kini membuat genangan bisa surut dalam waktu sekitar satu hari.
"Saat itu ya sebelum ada turap ini, ya hampir sama ketinggiannya seperti ini (dua meter). Tapi waktu itu surutnya lebih lama dibanding sekarang yang sudah ada turap seperti ini gitu kan," jelas dia.
Setiap kali banjir terjadi, sekitar 30 kepala keluarga atau 150 jiwa terdampak. Kondisi itu sering membuat warga terpaksa mengungsi ke sejumlah tempat yang lebih aman.
“Ya mengungsi, ada di balai warga, posyandu, atau ke rumah tetangga,” kata Yahya.
Banjir yang berulang menyebabkan kerugian, mulai dari kerusakan rumah hingga perabotan yang tidak bisa digunakan kembali. Kondisi ini membuat sebagian warga memilih pindah, baik sementara maupun permanen.
Baca juga: Pramono Perintahkan Pembersihan Ikan Sapu-sapu di Sungai Jakarta pada Jumat Pagi
"Kalau di sini ada tiga keluarga yang pindah. Pindah sementara kebanyakan, nanti begitu sudah musim kemarau, dia bisa kembali ke sini lagi," jelas dia.
Lebih lanjut, Yahya menjelaskan bahwa sebelumnya Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel sempat membangun turap dan memasang pompa air di lokasi tersebut sekitar Januari 2026 untuk mengurangi dampak banjir.
Namun, menurut dia, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif.
“Sekarang memang lebih cepat surut karena ada pompa, tapi banjirnya masih tetap terjadi,” kata dia.
Ia menilai, penyebab utama banjir adalah penyempitan dan pendangkalan kali di kawasan tersebut.





