Perdana Menteri (PM) baru Hungaria, Peter Magyar, mendesak Presiden Tamas Sulyok untuk mundur. Peter menyebut pihaknya siap mengeluarkan Undang-undang jika Tamas Sulyok enggan mundur.
Magyar sendiri menang telak dalam pemilihan mengalahkan tokoh nasionalis, Viktor Orban yang sudah 16 tahun menjabat. Peter menyampaikan desakan tersebut kepada Sulyok menjelang penyelenggaraan parlemen baru yang diperkirakan akan dimulai pada awal Mei.
"Saya tegaskan kembali kepadanya bahwa di mata saya dan di mata rakyat Hungaria, dia tidak layak menjadi simbol persatuan bangsa Hungaria dan tidak mampu menjamin penghormatan terhadap hukum," ujar Magyar dilansir kantor berita AFP, Kamis (16/4/2026).
Magyar menambahkan, jika presiden menolak untuk mundur, pemerintahannya akan memperkenalkan undang-undang untuk mencopotnya beserta. Dia menyebutkan jabatan-jabatan termasuk Jaksa Agung dan Ketua Mahkamah Konstitusi yang dipilih Orban diminta untuk mundur juga.
"Semua boneka yang ditunjuk oleh sistem Orban untuk menduduki jabatan-jabatan tinggi," ujarnya.
Ia mengatakan presiden, yang dipilih oleh parlemen, menanggapi tuntutan tersebut dengan jawaban yang 'penuh teka-teki'.
Magyar, yang partai Tisza-nya memenangkan dua pertiga mayoritas legislatif dalam pemilu memberikan kekuasaan untuk mengubah konstitusi. Dia mengatakan parlemen baru Hungaria kemungkinan akan berkumpul sekitar tanggal 6-7 Mei. Ia menyatakan telah mendesak Sulyok untuk menetapkan tanggal mundur sedini mungkin.
Orban, sekutu Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, kalah dalam pemilu setelah berkuasa selama 16 tahun. Trump sebelumnya secara vokal mendukung Orban, namun beberapa waktu lalu ia menyatakan menyukai Magyar.
"Saya pikir orang baru ini akan melakukan pekerjaan yang baik-dia orang yang baik," kata Trump Kepada ABC News.
(wnv/azh)





