Capung Asiagomphus melaenops Punya Mata "Inframerah" untuk Mengenali Pasangan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana dunia terlihat di mata seekor capung? Selama ini kita tahu capung adalah predator udara yang hebat, namun penelitian terbaru mengungkap bahwa mereka memiliki kemampuan penglihatan yang jauh lebih canggih yaitu kemampuan untuk melihat hingga spektrum inframerah dekat.

​Rahasia di Balik Mata Merah

Warna warni dunia yang kita lihat ditentukan oleh protein di mata bernama opsin. Peneliti dari Osaka Metropolitan University menemukan bahwa capung jenis Asiagomphus melaenops memiliki opsin khusus bernama RhLWA2 yang sangat sensitif terhadap cahaya merah. Jika manusia hanya bisa melihat warna merah hingga batas tertentu, capung ini mampu menangkap gelombang cahaya yang lebih panjang, mencapai area inframerah dekat (near-infrared).

​Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Cellular and Molecular Life Sciences ini menunjukkan bahwa opsin Am_RhLWA2 milik capung tersebut adalah opsin merah paling sensitif yang pernah ditemukan pada hewan sejauh ini.

​Evolusi yang Berjalan Beriringan

Menariknya, mekanisme kimia yang membuat mata capung ini sangat sensitif terhadap warna merah ternyata sangat mirip dengan mekanisme yang ada pada manusia dan mamalia lainnya. Peneliti menemukan adanya kesamaan posisi asam amino (posisi 292) yang bertanggung jawab atas pergeseran warna ini. Ini adalah contoh luar biasa dari "evolusi paralel", di mana alam menemukan solusi yang sama untuk dua jenis makhluk hidup yang sangat berbeda.

​"Kami menemukan bahwa substitusi asam amino pada posisi tertentu meningkatkan sensitivitas merah capung hingga mencapai wilayah inframerah dekat," jelas tim peneliti dalam laporannya.

​Mengapa Harus Melihat "Inframerah"?

Pertanyaan besarnya adalah: untuk apa kemampuan ini? Peneliti menduga bahwa sensitivitas ekstrem terhadap cahaya merah ini memberikan keuntungan besar bagi capung dalam mengenali pasangan atau lawan jenis melalui pantulan warna tubuh mereka. Di tengah rimbunnya hutan atau pantulan air, kemampuan membedakan spektrum warna merah yang halus membantu mereka bertahan hidup dan bereproduksi.

​Selain mengungkap rahasia alam, penemuan ini juga membuka peluang besar di bidang teknologi medis. Karena cahaya inframerah dapat menembus jaringan tubuh manusia lebih dalam dibandingkan cahaya biasa, opsin dari capung ini bisa dimodifikasi menjadi alat "optogenetik" teknologi yang menggunakan cahaya untuk mengontrol aktivitas sel di dalam tubuh tanpa pembedahan.

Referensi

Sato, R., Terakita, A. & Koyanagi, M. Dragonfly red opsins share a common tuning mechanism with mammalian red opsins and further enhancement of near-infrared sensitivity. 2026. Cell. Mol. Life Sci. 83, 66. doi: 10.1007/s00018-025-06017-9.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Napi Korupsi Bisa Mampir ke Coffee Shop di Kendari, Menteri Imipas sampai Turun Tangan
• 11 jam laluliputan6.com
thumb
Polres Pelabuhan Makassar Gelar Pengajian Bersama Anak Yatim Hafiz Al-Qur’an, Doakan Indonesia Tetap Kuat
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Jumlah Lansia Naik, Kemnaker Dorong Dunia Usaha Buka Peluang Kerja Baru
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Liverpool Vs PSG: Menang 2-0 di Anfield, PSG Tendang Liverpool dari Liga Champions
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Foto: Trauma Healing Bagi Anak-anak Terdampak Perang di Lebanon
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.