Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan prioritas utama negaranya adalah untuk mengamankan pembubaran Hizbullah dalam pembicaraan langsung pertamanya dengan Lebanon. Setelah itu Israel terbuka dalam membahas perdamaian.
"Dalam negosiasi dengan Lebanon, ada dua tujuan utama: pertama, pembubaran Hizbullah; kedua, perdamaian berkelanjutan... yang dicapai melalui kekuatan," kata Netanyahu, dilansir AFP, Kamis (16/4/2026).
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio menyebut pertemuan Israel dan Lebanon sebagai "kesempatan bersejarah" untuk perdamaian, ketika para duta besar kedua negara untuk Amerika Serikat bertemu dalam pembicaraan diplomatik tatap muka pertama sejak tahun 1993.
"Harapan hari ini adalah agar kita dapat merumuskan kerangka kerja yang dapat menjadi landasan bagi terciptanya perdamaian yang aktual dan langgeng," kata Rubio.
AS mendesak sekutunya, Israel, untuk mengakhiri operasi militer terhadap militan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon selatan. Tujuannya agar Israel dapat memusatkan perhatian untuk mengakhiri perang yang dilancarkan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Presiden Lebanon Joseph Aoun pada hari Selasa (14/04) menyampaikan harapannya bahwa pembicaraan ini akan "menandai awal dari berakhirnya penderitaan rakyat Lebanon."
Sejak konflik dimulai, ribuan warga Lebanon telah tewas, ribuan lainnya terluka, dan lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi. Banyak perdebatan muncul mengenai apakah Lebanon seharusnya ikut serta dalam gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Sementara itu, Hizbullah menolak semua kesempatan berdialog dengan Israel dan dilaporkan meningkatkan serangan saat berlangsungnya pembicaraan antara Lebanon dan Israel di AS.
(azh/azh)





