Penanganan masalah stunting di Indonesia memerlukan langkah yang lebih komprehensif dan tidak bisa hanya bergantung pada sektor kesehatan semata. Hasil penelitian terbaru dari Indonesia Health Development Center (IHDC) menyoroti pentingnya sinergi lintas sektor, mulai dari perbaikan gizi, infrastruktur, hingga pendidikan untuk memastikan tumbuh kembang anak yang optimal.
Ketua Dewan Pembina IHDC, Nila Djuwita Moeloek, menegaskan bahwa intervensi stunting harus dilakukan sedini mungkin, sebelum anak menginjak usia dua tahun. Menurutnya, fokus utama harus diarahkan pada perbaikan asupan kalori dan penanganan anemia yang menjadi faktor krusial dalam memperbaiki kondisi fisik dan kognitif anak.
Nila Moeloek juga menggarisbawahi bahwa sektor kesehatan tidak dapat berjalan sendiri dalam memerangi stunting. Ia menekankan perlunya dukungan infrastruktur, terutama akses terhadap air minum bersih, guna mencegah penyakit penyerta yang dapat memperburuk kondisi gizi anak.
"Kita perlu air minum yang bersih. Kalau air minumnya sudah tidak bersih, dia (anak) akan diare lagi, dan sebagainya. Jadi artinya memang lintas sektor ini harus dikerjakan semua," ujar Nila.
Baca juga: Dokter Sebut Kurang Zat Besi Memungkinkan Anak Kena Stunting
Senada dengan hal tersebut, Direktur Eksekutif IHDC, Ray Wagiu Basrowi, mengungkapkan bahwa akar permasalahan utama stunting adalah kurangnya asupan protein pada anak. IHDC menyarankan pemenuhan kebutuhan protein melalui sumber protein hewani.
"Strateginya sederhana, memastikan intake proteinnya tercukupi. Dicari sumber-sumber protein yang paling gampang dan paling bisa memberikan dampak jangka pendek, menengah dan panjang, salah satunya tentu saja sumber protein hewani," jelas Ray.
Ray menjelaskan bahwa sumber protein seperti telur, ikan, dan daging memiliki keunggulan karena lebih mudah diserap oleh tubuh dibandingkan sumber protein lainnya. Strategi ini dianggap paling sederhana namun memberikan dampak signifikan jika asupannya dipastikan tercukupi secara konsisten.




