Begini Kronologi Bayi yang Hampir Tertukar Versi RSHS Bandung, Bantah Spekulasi Praktik Ilegal

republika.co.id
18 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Manajemen Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung akhirnya angkat suara terkait kasus bayi yang hampir tertukar beberapa waktu lalu. Mereka mengungkapkan perawat mengalami distraksi atau perhatian teralihkan sehingga menyerahkan bayi ke orang tua yang lainnya.

Direktur Utama RSHS Bandung dr Rachim Dinata Marsidi mengatakan, bayi dari pasien Nina Saleha datang ke IGD RSHS pada 5 April dengan keluhan mengalami kuning di beberapa bagian tubuh. Selanjutnya, tim perawat dan dokter memberikan penanganan dengan baik.

Baca Juga
  • Polisi Periksa SOP Perawatan Imbas Kasus Bayi Hampir Tertukar di RSHS Bandung
  • Ibu Bayi yang Hampir Tertukar di RSHS Bandung Somasi Rumah Sakit
  • Sesalkan Kasus Bayi Hampir Tertukar di RSHS Bandung, Sekda Jabar Ingatkan RSUD Perketat SOP

"Perawatan selanjutnya, yaitu terhadap bayi tersebut dilakukan di NICU Rumah Sakit Hasan Sadikin selama 3 hari. Bahwa pada tanggal 8 April 2026, bayinya NS sudah mengalami perbaikan, sehingga direkomendasikan untuk bisa dipulangkan," ucap dia melalui keterangan resmi, Kamis (16/4/2026).

Ia menuturkan, petugas kemudian menghubungi NS yang diketahui berada di rumah sakit tanggal 8 April. Dirut mengatakan, orang tua pasien sudah berkomunikasi dengan petugas terkait edukasi dan identifikasi ulang bayi yang akan pulang.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

"Petugas kami mempersiapkan bayinya NS untuk diserahterimakan. Pada hari tersebut, memang terdapat dua bayi yang dijadwalkan untuk pulang dan menunggu di tempat yang sama, yaitu di ruang NICU," kata dia.

Ia menegaskan akses masuk ke ruangan tersebut terbatas dan tidak bisa sembarang orang masuk. Di ruangan tersebut hanya terdapat dua pasangan suami istri yang menunggu kepulangan bayinya.

"Saat petugas kami akan menyerahkan bayinya NS, ternyata NS tidak berada di tempat. Petugas kami sempat menanyakan kepada bapak dari pasien yang lain yang pada saat itu berada di ruangan tersebut, dan dalam penyampaiannya menyatakan NS sedang meninggalkan ruangan NICU," kata dia.

Karena kondisi bayi NS yang harus mendapatkan asupan susu, sedangkan di satu sisi lain orang tua dari bayi lain masih bertanya ke petugas, ia mengatakan petugas terdistraksi. Kemudian menyerahkan bayi NS ke ibu dari pasien yang lain. 

"Petugas kami terdistraksi, menyerahkan bayinya NS kepada ibu dari pasien yang lain. Kemudian petugas kami mengambil susu untuk bayinya NS," kata dia.

Selanjutnya, karena NS belum tiba, pihaknya mengambil kembali bayi dari ibu pasien lain. Kemudian menyerahkannya kepada orang tua NS.

"Dengan demikian kami berpandangan permasalahan ini sebenarnya telah selesai melalui penjelasan dari petugas kami di ruangan NICU. Petugas kami juga telah meminta maaf atas ketidaknyamanan tersebut," kata dia.

Pihaknya telah membentuk tim, serta melakukan klarifikasi dan koordinasi dengan NS pada tanggal 9 April 2026. NS mengucapkan terima kasih kepada RSHS atas pelayanan yang telah diberikan.

"Dikarenakan tidak ada hal lain yang disampaikan NS pada saat itu, kami berkesimpulan, permasalahan ini telah selesai secara kekeluargaan," kata dia.

Sementara itu, terkait dugaan praktek ilegal yang beredar di media, pihaknya menegaskan hal itu tidak benar. "Adanya dugaan praktek ilegal, ataupun lainnya adalah tidak benar," kata dia.

Ia menambahkan, petugas yang memegang bayi NS telah dinonaktifkan dalam memberikan pelayanan kesehatan dan melaporkan ke Kementerian Kesehatan. Pihaknya mengaku akan meningkatkan pelayanan.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kisah Pilu Keluarga Jukir di Kota Madiun: Tergusur Proyek PSC Corner, Kini Terancam Kehilangan Rumah 
• 10 jam lalurealita.co
thumb
Stok Senjata Menipis, Pentagon Desak Produsen Mobil AS Ikut Bikin Senjata
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
MUI Minta Kemenhaj Fokus Persiapan Haji Dibanding Wacana War Ticket
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Video: RUPTL 2025-2034 Dikaji Ulang dan Disesuaikan Dengan Kebutuhan RI
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Donasi dari Warga Indonesia Tembus Rp9 Miliar, Dubes: Untuk Korban Perang 
• 5 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.