Mulai pekan ini, sejumlah besar kapal tanker kosong, termasuk puluhan kapal tanker super, sedang menuju pelabuhan di sepanjang Teluk Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kapal-kapal ini akan mengangkut penuh minyak mentah dari AS untuk memasok pasar energi global yang sedang mengalami kekurangan. Amerika Serikat kini menjadi produsen minyak terbesar di dunia. Trump juga mengatakan bahwa minyak mentah AS memiliki kadar sulfur rendah dan kualitas tinggi, bahkan disebut sebagai “minyak mentah paling manis di dunia”.
EtIndonesia. Setelah Presiden Trump mengumumkan blokade terhadap pelabuhan Iran, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz sempat mengalami kelumpuhan.
Perusahaan analisis maritim asal Inggris, Windward, menyebutkan bahwa arus pengangkutan minyak mentah global kini jelas beralih ke pelabuhan di Teluk AS. Laporan menunjukkan sekitar 172 kapal tanker sedang dalam perjalanan menuju kawasan tersebut.
Menurut lembaga riset pasar energi Kpler, ekspor minyak mentah AS pada April diperkirakan meningkat menjadi sekitar 5,2 juta barel per hari, naik sekitar sepertiga dibandingkan 3,9 juta barel per hari pada bulan Maret.
Pada saat yang sama, sekitar 28 kapal tanker super besar (VLCC) dengan kapasitas hingga 2 juta barel per kapal telah dijadwalkan menuju AS untuk memuat minyak mentah, sementara pada bulan biasa rata-rata hanya sekitar 5 kapal.
Di tengah meningkatnya aktivitas di Teluk AS, negara-negara di Eropa dan Asia juga sedang mencari sumber energi alternatif. Harga minyak di berbagai kawasan pun mengalami kenaikan signifikan, dan ketergantungan pasar global terhadap minyak dan gas dari Amerika Serikat semakin meningkat.
Presiden Trump pada Sabtu lalu (11 April) mengatakan bahwa “sejumlah besar kapal tanker kosong” sedang menuju AS untuk membeli energi. Pada Senin (13 April), ia kembali menegaskan: “Para pembeli asing memberikan suara melalui kapal mereka: energi Amerika berarti stabilitas, kekuatan, dan kebebasan dari tekanan Timur Tengah.”
Pada Maret, otoritas Pelabuhan Houston mengumumkan selesainya proyek pelebaran jalur pelayaran “Project 11”, yang menghapus pembatasan pelayaran malam hari yang telah berlaku lebih dari satu abad. Kini kapal besar dapat beroperasi dengan aman selama 24 jam tanpa harus menunggu siang hari untuk masuk pelabuhan.
Setelah harga minyak melonjak tajam pada Senin, pada hari Selasa harga kembali turun akibat munculnya kabar bahwa kedua pihak mungkin akan melanjutkan perundingan. Minyak Brent turun 0,8% menjadi USD 98,57 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,65% menjadi USD 97,45 per barel. (Hui)
Dilaporkan oleh reporter NTD, Liu Jiajia dari Amerika Serikat.





