Jakarta (ANTARA) - Seperti kebanyakan negara di Eropa, Jerman tengah dipusingkan oleh menguatnya ideologi ekstrem kanan dalam beberapa dasawarsa terakhir.
Ideologi kanan jauh atau ekstrem kanan acap berkembang luas dalam lingkungan yang intoleran, rasis dan xenofobia.
Lingkungan semacam itu juga berkembang di Jerman. Salah satu indikatornya terlihat dari sistem politiknya, yang terpaksa merangkul ideologi ini lewat kemenangan partai-partai kanan jauh di sana.
Kanan jauh secara perlahan mereorganisasi diri setelah Partai Nazi dilarang tak lama seusai Perang Dunia Kedua berakhir.
Tapi perlu waktu lama bagi mereka untuk masuk lagi dalam pusaran utama politik Jerman, sampai Partai Alternatif Jerman (AfD) memenangkan 94 kursi di parlemen (Bundestag) menyusul Pemilu 2017. AfD pun menjadi partai oposisi terbesar di Jerman.
Kini kursi AfD di Bundestag sudah 150 atau separuh dari 302 kursi oposisi. Mereka berhadapan dengan koalisi berkuasa pimpinan Kanselir Friedrich Merz.
Banyak warga Jerman yang mengkhawatirkan popularitas kanan jauh yang terus naik, yang di sisi lain memesankan naiknya pula intoleransi. Mereka bertarung keras memperjuangkan keberagaman dan demokrasi, sampai muncul demonstrasi besar pada 2024 dan 2025.
Namun, itu hanya salah satu bentuk perlawanan, karena di ruang-ruang sosial lain, pertarungan melawan intoleransi malah lebih heroik lagi.
Salah satunya terjadi dalam sistem sepak bola profesional Jerman, di mana divisi utamanya, yakni Bundesliga, menjadi garis depan dalam memerangi intoleransi, yang uniknya dimulai dari si raja Bundesliga, Bayern Muenchen.
Klub terbesar Jerman yang langganan juara sampai tingkat Eropa dan dunia itu, membuat terobosan besar pada 2024, ketika memilih Vincent Kompany sebagai pelatih kepala.
Kompany tidak saja pelatih klub Bayern pertama yang berkulit hitam, tetapi juga yang pertama di Bundesliga.
Namun dari sistem sepak bola profesional Jerman secara umum, Kompany bukan orang kulit hitam pertama yang melatih sebuah klub sepak bola Jerman, karena sudah ada Daniel Thioune, yang melatih Vfl Osnabruk di divisi kedua Jerman atau Bundesliga 2.
Thioune juga melatih Hamburg SV, Fortuna Dusseldorf, dan Werder Bremen, ketika ketiga klub ini berkutat di Bundesliga 2.
Baca juga: Kompany: Bayern berhak tunjukkan kepercayaan diri usai kalahkan Madrid
Baca juga: Kompany yakin bisa bawa Bayern Muenchen bungkam PSG
Jika Kompany adalah warga Belgia, maka Thione adalah warga Jerman.
Thione adalah satu dari sekitar satu juta warga kulit hitam di Jerman, yang rata-rata memiliki nenek moyang orang Ghana, Nigeria, dan Kamerun.
Kulit hitam dan Muslim adalah di antara warga Jerman yang kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif.
Jajak pendapat National Discrimination and Racism Monitor pada awal 2025 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen warga kulit hitam dan Muslim di Jerman mengaku mengalami perlakuan diskriminatif, termasuk di dunia kerja.
Namun ilustrasi terkuat mengenai kecenderungan diskriminasi dan intoleransi yang semakin luas, adalah semakin populernya platform-platform politik kanan jauh di Jerman, khususnya AfD.
Banyak warga khawatir keberagaman yang lama dirangkul Jerman sejak akhir Perang Dunia Kedua, terkikis oleh intoleransi yang tercermin dari ideologi kanan jauh yang semakin populer.
Lebih indah jika juara
Bayern Muenchen dan Bundesliga, yang menampung segala macam manusia dari berbagai ras, juga mengkhawatirkan fenomena itu.
Bundesliga, melalui Union Berlin, bahkan melangkah lebih jauh lagi, ketika Marie-Lousie Eta menjadi wanita pertama yang menjadi pelatih kepala di Liga Jerman. Eta juga menjadi perempuan pertama di lima liga top Eropa.
Ini pesan kuat dari Bundesliga mengenai kesempatan sama untuk semua orang, tanpa memandang gender, yang kadang diremehkan oleh atmosfer sosial yang maskulinistis.
Union Berlin dan Bayern Muenchen, yang adalah dua klub besar dari dua kota terbesar di Jerman, pasti tidak sembarangan memilih Eta dan Kompany.
Baca juga: Vincet Kompany bela Lennart Karl terkait komentarnya soal Real Madrid
Ada tujuan lebih dari sekadar sepak bola dan olah raga. Mereka tengah memberi pesan penting, dan juga semangat, kepada masyarakat di negaranya.
Dalam kasus Muenchen, klub ini bisa saja merekrut pelatih yang memiliki resume jauh lebih hebat dari Kompany yang hanya meraih trofi juara divisi dua Inggris (Liga Championship) bersama Burnley pada 2023.
Sebelumnya bersama Anderlecht, mantan kapten dan salah satu legenda Manchester City itu gagal mempersembahkan trofi kepada klub Liga Belgia itu.
Tapi mungkin bukan semata prestasi sepak bola yang dilihat Bayern dari Kompany karena klub ini juga ingin memberi pesan bahwa mereka juga aktif melawan intoleransi dan diskriminasi.
Dengan memilih Kompany, mereka memberi pesan kepada rakyat Jerman, bahwa masyarakat madani, toleransi, dan keberagaman, tetap dijunjung tinggi di Jerman.
Ternyata pilihan mereka kepada Kompany tidak salah. Bayern malah semakin mengerikan, tidak saja di Bundesliga, tapi juga di Liga Champions Eropa.
Di bawah kepemimpinan Kompany, Bayern baru sekali kalah dari 29 pertandingan liga sejauh ini.
Berselisih 12 poin dari Borussia Dortmund, mereka kokoh di puncak klasemen Liga Jerman dan sudah terlalu sulit untuk dikejar klub lain sehingga kemungkinan besar menjuarai kembali Bundesliga.
Mereka juga favorit kuat menjuarai Liga Champions setelah dua kali mengalahkan Raja Eropa, Real Madrid, dalam perempatfinal, guna mencapai semifinal untuk menghadapi juara bertahan Paris Saint German.
Di Liga Champions, hanya Arsenal yang mengalahkan mereka, ketika kedua klub ini bertemu dalam fase grup.
Tetapi selama fase gugur, performa Bayern lebih dahsyat dari Arsenal. Mereka memenangkan semua dari empat laga fase gugur sejauh ini, sedangkan Arsenal memiliki catatan tiga kali menang dan sekali seri.
Hal yang lebih mengerikan lagi adalah produktivitas gol Bayern menyalip Arsenal yang selama fase grup begitu maut di depan gawang lawan.
Bayangkan, untuk mencapai semifinal Liga Champions, Bayern menyarangkan 16 gol ke gawang Atalanta dan Real Madrid, ketika Arsenal hanya bisa membuat 4 gol ke gawang Bayer Leverkusen dan Sporting Lisbon.
Oleh karena itu, dengan tetap menaruh hormat kepada Paris Saint German dan Atletico Madrid, final ideal Liga Champions seharusnya mempertemukan kembali Bayern dengan Arsenal.
Dan demi toleransi dan keberagaman, Bayern Muenchen yang juga favorit juara Piala Jerman, akan lebih indah lagi jika menjadi juara Liga Champions musim ini.
Baca juga: Kompany bangga skuad mayoritas muda Bayern menang atas Heidenheim
Baca juga: Kompany ingin Bayern Muenchen "sekuat badai"
Ideologi kanan jauh atau ekstrem kanan acap berkembang luas dalam lingkungan yang intoleran, rasis dan xenofobia.
Lingkungan semacam itu juga berkembang di Jerman. Salah satu indikatornya terlihat dari sistem politiknya, yang terpaksa merangkul ideologi ini lewat kemenangan partai-partai kanan jauh di sana.
Kanan jauh secara perlahan mereorganisasi diri setelah Partai Nazi dilarang tak lama seusai Perang Dunia Kedua berakhir.
Tapi perlu waktu lama bagi mereka untuk masuk lagi dalam pusaran utama politik Jerman, sampai Partai Alternatif Jerman (AfD) memenangkan 94 kursi di parlemen (Bundestag) menyusul Pemilu 2017. AfD pun menjadi partai oposisi terbesar di Jerman.
Kini kursi AfD di Bundestag sudah 150 atau separuh dari 302 kursi oposisi. Mereka berhadapan dengan koalisi berkuasa pimpinan Kanselir Friedrich Merz.
Banyak warga Jerman yang mengkhawatirkan popularitas kanan jauh yang terus naik, yang di sisi lain memesankan naiknya pula intoleransi. Mereka bertarung keras memperjuangkan keberagaman dan demokrasi, sampai muncul demonstrasi besar pada 2024 dan 2025.
Namun, itu hanya salah satu bentuk perlawanan, karena di ruang-ruang sosial lain, pertarungan melawan intoleransi malah lebih heroik lagi.
Salah satunya terjadi dalam sistem sepak bola profesional Jerman, di mana divisi utamanya, yakni Bundesliga, menjadi garis depan dalam memerangi intoleransi, yang uniknya dimulai dari si raja Bundesliga, Bayern Muenchen.
Klub terbesar Jerman yang langganan juara sampai tingkat Eropa dan dunia itu, membuat terobosan besar pada 2024, ketika memilih Vincent Kompany sebagai pelatih kepala.
Kompany tidak saja pelatih klub Bayern pertama yang berkulit hitam, tetapi juga yang pertama di Bundesliga.
Namun dari sistem sepak bola profesional Jerman secara umum, Kompany bukan orang kulit hitam pertama yang melatih sebuah klub sepak bola Jerman, karena sudah ada Daniel Thioune, yang melatih Vfl Osnabruk di divisi kedua Jerman atau Bundesliga 2.
Thioune juga melatih Hamburg SV, Fortuna Dusseldorf, dan Werder Bremen, ketika ketiga klub ini berkutat di Bundesliga 2.
Baca juga: Kompany: Bayern berhak tunjukkan kepercayaan diri usai kalahkan Madrid
Baca juga: Kompany yakin bisa bawa Bayern Muenchen bungkam PSG
Jika Kompany adalah warga Belgia, maka Thione adalah warga Jerman.
Thione adalah satu dari sekitar satu juta warga kulit hitam di Jerman, yang rata-rata memiliki nenek moyang orang Ghana, Nigeria, dan Kamerun.
Kulit hitam dan Muslim adalah di antara warga Jerman yang kerap mendapatkan perlakuan diskriminatif.
Jajak pendapat National Discrimination and Racism Monitor pada awal 2025 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen warga kulit hitam dan Muslim di Jerman mengaku mengalami perlakuan diskriminatif, termasuk di dunia kerja.
Namun ilustrasi terkuat mengenai kecenderungan diskriminasi dan intoleransi yang semakin luas, adalah semakin populernya platform-platform politik kanan jauh di Jerman, khususnya AfD.
Banyak warga khawatir keberagaman yang lama dirangkul Jerman sejak akhir Perang Dunia Kedua, terkikis oleh intoleransi yang tercermin dari ideologi kanan jauh yang semakin populer.
Lebih indah jika juara
Bayern Muenchen dan Bundesliga, yang menampung segala macam manusia dari berbagai ras, juga mengkhawatirkan fenomena itu.
Bundesliga, melalui Union Berlin, bahkan melangkah lebih jauh lagi, ketika Marie-Lousie Eta menjadi wanita pertama yang menjadi pelatih kepala di Liga Jerman. Eta juga menjadi perempuan pertama di lima liga top Eropa.
Ini pesan kuat dari Bundesliga mengenai kesempatan sama untuk semua orang, tanpa memandang gender, yang kadang diremehkan oleh atmosfer sosial yang maskulinistis.
Union Berlin dan Bayern Muenchen, yang adalah dua klub besar dari dua kota terbesar di Jerman, pasti tidak sembarangan memilih Eta dan Kompany.
Baca juga: Vincet Kompany bela Lennart Karl terkait komentarnya soal Real Madrid
Ada tujuan lebih dari sekadar sepak bola dan olah raga. Mereka tengah memberi pesan penting, dan juga semangat, kepada masyarakat di negaranya.
Dalam kasus Muenchen, klub ini bisa saja merekrut pelatih yang memiliki resume jauh lebih hebat dari Kompany yang hanya meraih trofi juara divisi dua Inggris (Liga Championship) bersama Burnley pada 2023.
Sebelumnya bersama Anderlecht, mantan kapten dan salah satu legenda Manchester City itu gagal mempersembahkan trofi kepada klub Liga Belgia itu.
Tapi mungkin bukan semata prestasi sepak bola yang dilihat Bayern dari Kompany karena klub ini juga ingin memberi pesan bahwa mereka juga aktif melawan intoleransi dan diskriminasi.
Dengan memilih Kompany, mereka memberi pesan kepada rakyat Jerman, bahwa masyarakat madani, toleransi, dan keberagaman, tetap dijunjung tinggi di Jerman.
Ternyata pilihan mereka kepada Kompany tidak salah. Bayern malah semakin mengerikan, tidak saja di Bundesliga, tapi juga di Liga Champions Eropa.
Di bawah kepemimpinan Kompany, Bayern baru sekali kalah dari 29 pertandingan liga sejauh ini.
Berselisih 12 poin dari Borussia Dortmund, mereka kokoh di puncak klasemen Liga Jerman dan sudah terlalu sulit untuk dikejar klub lain sehingga kemungkinan besar menjuarai kembali Bundesliga.
Mereka juga favorit kuat menjuarai Liga Champions setelah dua kali mengalahkan Raja Eropa, Real Madrid, dalam perempatfinal, guna mencapai semifinal untuk menghadapi juara bertahan Paris Saint German.
Di Liga Champions, hanya Arsenal yang mengalahkan mereka, ketika kedua klub ini bertemu dalam fase grup.
Tetapi selama fase gugur, performa Bayern lebih dahsyat dari Arsenal. Mereka memenangkan semua dari empat laga fase gugur sejauh ini, sedangkan Arsenal memiliki catatan tiga kali menang dan sekali seri.
Hal yang lebih mengerikan lagi adalah produktivitas gol Bayern menyalip Arsenal yang selama fase grup begitu maut di depan gawang lawan.
Bayangkan, untuk mencapai semifinal Liga Champions, Bayern menyarangkan 16 gol ke gawang Atalanta dan Real Madrid, ketika Arsenal hanya bisa membuat 4 gol ke gawang Bayer Leverkusen dan Sporting Lisbon.
Oleh karena itu, dengan tetap menaruh hormat kepada Paris Saint German dan Atletico Madrid, final ideal Liga Champions seharusnya mempertemukan kembali Bayern dengan Arsenal.
Dan demi toleransi dan keberagaman, Bayern Muenchen yang juga favorit juara Piala Jerman, akan lebih indah lagi jika menjadi juara Liga Champions musim ini.
Baca juga: Kompany bangga skuad mayoritas muda Bayern menang atas Heidenheim
Baca juga: Kompany ingin Bayern Muenchen "sekuat badai"





