Kinerja Ritel Menguat Berkat Faktor Musiman Ramadan–Idul Fitri, Daya Beli Rawan Tertekan Inflasi

medcom.id
16 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Kinerja ritel domestik menunjukkan penguatan dalam jangka pendek, terutama ditopang oleh faktor musiman Ramadan dan Idul Fitri serta dukungan kebijakan pemerintah.
 
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menjelaskan konsumsi rumah tangga masih relatif tahan di tengah dinamika ekonomi saat ini.
 
Berdasarkan Survei Penjualan Ritel Bank Indonesia, Indeks Penjualan Riil (IPR) tercatat tumbuh 6,5% secara tahunan (YoY) pada Februari 2026 menjadi 232,7. Secara bulanan, indeks ini juga mengalami rebound sebesar 4,1% (MoM) setelah sebelumnya sempat mengalami kontraksi.
  Baca juga:   Tren Mal 2026: Outdoor jadi Daya Tarik Baru Pengunjung                                          
Menurut Novani, peningkatan tersebut didorong oleh menguatnya permintaan pada sejumlah segmen utama, seperti suku cadang dan aksesori, makanan dan minuman, serta pakaian, yang mencerminkan pola belanja khas menjelang Ramadan.

Meski Bank Indonesia memproyeksikan peningkatan lanjutan pada Maret seiring puncak konsumsi Idul Fitri, Novani mengingatkan bahwa pelaku pasar tetap perlu mencermati sifat musiman dari penguatan tersebut.
 
“Sebagian besar kenaikan ini bersifat sementara, didorong oleh pencairan tunjangan hari raya (THR), promosi ritel, serta lonjakan konsumsi musiman. Momentum ini berpotensi tidak berlanjut setelah periode perayaan berakhir,” ujarnya. Tekanan Harga Mulai Meningkat Lebih lanjut, Novani menilai indikator ke depan masih menunjukkan prospek positif, meski dibayangi peningkatan tekanan harga.
 
Ekspektasi penjualan tetap berada di zona optimis, dengan indeks mencapai 147,2 untuk tiga bulan mendatang dan 162,4 untuk enam bulan ke depan. Hal ini mencerminkan adanya potensi ekspansi permintaan dari perspektif pelaku usaha.
 
Namun demikian, Indeks Ekspektasi Harga (PEI) yang mencapai 157,4 untuk Mei 2026 mengindikasikan meningkatnya risiko inflasi. “Tekanan harga yang meningkat berpotensi menggerus daya beli masyarakat, terutama ketika efek dorongan musiman Idul Fitri mulai mereda,” kata Novani. Risiko Penurunan Konsumsi Mulai Terlihat Novani memperkirakan konsumsi rumah tangga dan aktivitas ritel akan cenderung moderat dengan kecenderungan melemah.
 
Normalisasi permintaan pasca-Idul Fitri, ditambah dengan melemahnya kepercayaan konsumen serta tekanan eksternal seperti risiko geopolitik dan volatilitas nilai tukar, dinilai dapat membatasi pertumbuhan permintaan domestik.
 
Selain itu, kebijakan Bank Indonesia yang berfokus menjaga stabilitas rupiah melalui kondisi likuiditas yang lebih ketat juga berpotensi menahan laju konsumsi.
 
Secara keseluruhan, Novani menilai bahwa meskipun tekanan jangka pendek masih tertahan oleh subsidi dan faktor musiman, momentum konsumsi berisiko melemah dalam beberapa kuartal ke depan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
280 Nama Bayi Perempuan Islami 3 Kata Huruf A-Z dan Artinya yang Cantik
• 16 jam lalutheasianparent.com
thumb
Hadapi El Nino, Pramono Waspadai Ancaman Ketersediaan Pangan hingga ISPA
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Wamentan Jamin Stok Pupuk Subsidi Aman di Tengah Gangguan Distribusi Global
• 18 jam lalumatamata.com
thumb
Holding Perkebunan Nusantara Kembangkan Hilirisasi, PTPN I Fokus Replanting di Pulau Seram
• 19 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Harga Emas Antam Turun Tipis Rp5.000, Kini Dibanderol Rp2,888 Juta per Gram
• 18 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.