Lanskap perpajakan Indonesia tengah bersiap menghadapi transformasi besar dengan implementasi penuh CoreTax System. Transformasi ini mendorong lahirnya inisiatif baru yang akan segera diluncurkan yakni "Akuntara" (Akuntansi Nusantara Solution), sebuah ekosistem transaksi digital berbasis kecerdasan buatan (AI). Ekosistemi ini juga dirancang untuk menjembatani kesenjangan (gap) antara dunia pendidikan khususnya vokasi dengan kebutuhan nyata industri, terutama ekosistem UMKM di Indonesiai.
Akuntara digagas oleh Donny, pakar perpajakan sekaligus Managing Director Tax Department Allinial Global Indonesia. Menurutnya, perubahan sistem perpajakan yang semakin terotomasi menuntut kesiapan sumber daya manusai (SDM) yang handal terutama generasi muda dari lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).
Selain mengandalkan teknologi AI, Akuntara juga didukung oleh jaringan global Allinial Global, salah satu asosiasi firma akuntansi dan advisory terbesar ke dua di dunia. Dukungan ini akan menghadirkan standar praktik berstandar internasional dalam pengelolaan perpajakan dan akuntansi di Indonesia.
“Teknologi AI dan sistem CoreTax bukan untuk ditakuti, melainkan untuk diadopsi. Kami ingin membuktikan bahwa lulusan SMK dan SMA tidak hanya belajar teori, tetapi mampu menjadi operator garis depan dalam ekosistem transaksi digital Indonesia,” ujar Donny dalam media briefing di Jakarta, Rabu (16/4).
Dalam acara tersebut, CEO & Regional Director Allinial Global, Tony Sacre, serta Regional Director APAC, Abby Chee, turut hadir bersama Managing Partner Asia Pacific International Law Office, Vanessa Wijaya. Kehadiran mereka menegaskan komitmen ekspansi dan kolaborasi internasional dalam pengembangan ekosistem ini.
Berdasarkan pengalaman lebih dari 19 tahun di dunia konsultan dan latar belakang sebagai alumni STAN serta mantan praktisi Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Donny melihat adanya tantangan besar bagi lulusan vokasi dalam memasuki dunia kerja yang kini semakin terotomasi.
Menurutnya, selama ini terdapat kesenjangan signifikan antara kurikulum pendidikan vokasi dengan kebutuhan dunia kerja, terutama dalam menghadapi digitalisasi. “Kami melihat lulusan vokasi sering kali belum siap masuk ke sistem kerja yang sudah berbasis teknologi. Akuntara hadir untuk menjembatani gap tersebut,” katanya.
Dengan tagline “Bridging the Gap: Transforming Vocational Accounting Talents for Indonesia’s SME Ecosystem”, Akuntara fokus pada dua misi utama: pertama, transformasi talenta, untuk melatih lulusan vokasi agar memiliki standar kompetensi global dalam administrasi pajak, kepabeanan, hingga manajemen devisa. Kedua, efisiensi UMKM, melalui ekosistem pencatatan transaksi yang efektif dan efisien bagi pelaku usaha, memastikan kepatuhan pajak mereka selaras dengan regulasi terbaru secara tepat waktu.
Donny mengatan, Akuntara akan diluncurkan pada Juni 2026 mendatang, ditandai dengan mulai beroperasinya Akuntara Ecosystem Center yang berlokasi di GP Plaza Slipi, Jakarta, sebagai sebuah pusat kegiatan ekosistem Akuntara yang juga merupakan pusat eksosistem yang bertumbuh bagi lulusan SMK Akuntansi dan SMA jurusan IPS.
Ia menjelaskan, pada tahap awal, Akuntara akan menjalankan proyek percontohan yang melibatkan 50 talenta vokasi terpilih. Mereka akan menangani administrasi transaksi dan kepatuhan pajak bagi 250 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan pendampingan langsung dari konsultan senior. Skema ini dirancang untuk mensimulasikan kondisi kerja nyata sekaligus mengintegrasikan penggunaan sistem CoreTax.
Donny menekankan bahwa keberhasilan implementasi CoreTax tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia di tingkat operasional. ““Kami ingin memastikan bahwa investasi besar pemerintah dalam sistem CoreTax didukung oleh ketersediaan tenaga kerja terampil di tingkat akar rumput. Akuntara hadir untuk memastikan lulusan SMK kita menjadi pemain utama dalam transformasi ekonomi digital ini,” tutup Donny.




