Bisnis.com, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) diprediksi menjadi emiten nikel yang paling resilien di tengah ancaman kelangkaan sulfur dan lonjakan biaya produksi smelter high pressure acid leaching (HPAL).
Berdasarkan riset Indo Premier Sekuritas (IPOT) yang dirilis Kamis (16/4/2026), sektor nikel Indonesia tengah menghadapi tantangan ganda. Selain gangguan logistik di Selat Hormuz, China berencana melarang ekspor asam sulfat mulai Mei 2026, yang mencakup sekitar 10% pasokan laut global.
Kondisi tersebut diperparah dengan lonjakan harga belerang yang telah melesat 73% sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD) dari US$525 per ton menjadi US$910 per ton. Hal ini berisiko mengerek beban biaya asam sulfat hingga 70% dari total biaya tunai produksi mixed hydroxide precipitate (MHP).
Analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan, menilai bahwa INCO akan menjadi penerima manfaat utama karena memiliki posisi inventaris sulfur yang jauh lebih kuat dibanding rata-rata industri.
“INCO menjadi penerima manfaat utama karena sebagian terlindungi oleh tingkat persediaan sulfur yang lebih panjang dari rata-rata, yakni hingga Oktober 2026, dibandingkan rata-rata industri yang hanya 1-2 bulan,” ujarnya.
Di saat banyak smelter HPAL di Indonesia berisiko memangkas produksi hingga 10 – 15% akibat menipisnya pasokan sulfur, emiten pelat merah tersebut dinilai mampu menjaga stabilitas operasional dan margin tunai.
Baca Juga
- Ditekan Harga Nikel, Vale (INCO) Tetap Bukukan Kinerja Solid Sepanjang 2025
- Vale (INCO) Raih Kredit Berkelanjutan Rp8,43 Triliun, Ada Opsi Greenshoe
- Vale Indonesia (INCO) Cetak Laba Bersih Rp1,27 Triliun Sepanjang 2025
Sebagai perbandingan, Ryan dan Reggie menuturkan margin tunai MHP industri diperkirakan menyusut ke kisaran US$2.000—US$3.000 per ton, turun tajam dari posisi Februari 2026 yang sempat menyentuh US$9.000 per ton.
Selain INCO, sejumlah emiten seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) juga terus dicermati.
ANTM dinilai masih menjadi laggard di sektor ini, meski diprediksi mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ) pada periode tiga bulan pertama 2026.
Secara makro, harga nikel di London Metal Exchange (LME) diperkirakan masih memiliki ruang penguatan yang didorong potensi pelemahan indeks dolar AS (DXY) dan sentimen formula baru Harga Patokan Mineral (HPM). Namun, risiko dari sisi biaya energi tetap membayangi seiring kenaikan harga diesel industri.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





