FAJAR, MAKASSAR — Di tengah perburuan gelar Super League Indonesia musim 2025/2026 yang semakin memanas, satu hal mulai terlihat jelas: dominasi Persib Bandung belum sepenuhnya aman. Meski masih berada di puncak klasemen, ancaman nyata justru datang dari Borneo FC yang terus menempel dan siap melakukan “kudeta” di momen krusial.
Dalam konteks inilah, pertandingan antara PSM Makassar melawan Borneo FC pada 18 April 2026 menjadi laga dengan dampak besar—bukan hanya bagi kedua tim, tetapi juga bagi Persib. Harapan Maung Bandung kini bertumpu pada PSM, khususnya pada ketajaman striker mereka, Alex Tanque, untuk menghentikan laju pesaing terdekat tersebut.
Pertemuan PSM dan Borneo FC memang selalu menghadirkan tensi tinggi. Statistik lima pertemuan terakhir menunjukkan keseimbangan yang nyaris sempurna: masing-masing satu kemenangan dan tiga hasil imbang. Tidak ada dominasi, tidak ada superioritas mutlak. Dua tim ini seperti cermin satu sama lain—sama kuat, sama disiplin, dan sama berbahaya.
Dalam pertandingan dengan karakter seperti ini, detail kecil sering kali menjadi pembeda. Efektivitas di depan gawang, konsentrasi lini belakang, hingga ketahanan mental dalam tekanan akan menentukan hasil akhir. Kesalahan sekecil apa pun bisa berujung fatal.
PSM tentu memiliki satu keuntungan: bermain di kandang sendiri. Dukungan suporter di Makassar kerap menjadi energi tambahan yang mampu mengangkat performa tim. Namun di sisi lain, ekspektasi besar dari publik juga bisa berubah menjadi tekanan jika tidak dikelola dengan baik.
Sementara itu, Borneo FC datang dengan motivasi yang sangat jelas—menang untuk menjaga peluang juara tetap hidup. Mereka diprediksi akan tampil agresif sejak awal, mencoba menekan PSM dan mencuri gol cepat. Ini akan menjadi duel antara kesabaran dan agresivitas.
Di tengah duel panas tersebut, perhatian juga tertuju pada lini depan Persib. Nama Ramon Tanque sempat menjadi sorotan di awal musim. Didatangkan dengan ekspektasi tinggi, ia justru mengalami masa sulit dalam 10 pertandingan pertamanya tanpa satu gol pun—hanya mencatat satu assist.
Namun di sinilah peran pelatih Bojan Hodak menjadi krusial. Alih-alih kehilangan kepercayaan, Hodak justru menunjukkan kesabaran. Ia tetap memberikan menit bermain, bahkan ketika striker utama lain seperti Uilliam Barros sedang dalam performa tajam.
Kesabaran itu akhirnya terbayar.
Menjelang akhir putaran pertama, Ramon mencetak gol debutnya—kebetulan ke gawang Borneo FC—dalam kemenangan 3-1. Sejak saat itu, grafik performanya meningkat signifikan. Kini ia telah mengoleksi delapan gol, sejajar dengan Uilliam, dan menjadi salah satu tumpuan utama di lini depan Persib.
Menariknya, peningkatan performa Ramon tidak lepas dari pendekatan latihan yang tidak biasa. Ia diketahui menjalani latihan tambahan berupa pilates reformer—metode yang berfokus pada penguatan otot inti, keseimbangan, dan stabilitas tubuh. Dalam sepak bola modern, aspek fisik seperti ini memang semakin penting, terutama untuk menjaga konsistensi performa.
Hodak sendiri mengaku tidak terlalu memahami detail metode tersebut, namun ia tidak mempermasalahkannya. Baginya, hasil di lapangan adalah segalanya. Selama pemain mampu mencetak gol dan memberi kontribusi positif bagi tim, metode apa pun akan ia dukung.
Namun, di tengah meningkatnya performa Ramon, muncul satu narasi menarik: apakah Persib sebenarnya membutuhkan tipe striker seperti Alex Tanque?
Berbeda dengan Ramon yang cenderung “meledak” dalam momen tertentu—sering mencetak brace dalam satu pertandingan—Alex Tanque dikenal lebih konsisten dalam menekan pertahanan lawan sepanjang laga. Ia bukan hanya pencetak gol, tetapi juga pembuka ruang dan pengganggu ritme bek lawan.
Dalam laga seperti PSM vs Borneo, karakter seperti ini bisa menjadi pembeda. Jika Alex mampu tampil tajam dan membawa PSM meraih kemenangan, maka dampaknya akan langsung terasa pada posisi Persib di klasemen.
Dengan kata lain, harapan Persib untuk mengamankan gelar kini tidak sepenuhnya berada di tangan mereka sendiri. Mereka membutuhkan bantuan dari tim lain—dan dalam hal ini, dari ketajaman seorang striker lawan.
Situasi ini menegaskan betapa tipisnya margin dalam perebutan gelar musim ini.
Satu pertandingan, satu gol, bahkan satu kesalahan kecil bisa mengubah arah kompetisi. Persib mungkin masih berada di depan, tetapi bayang-bayang Borneo FC terus mendekat. Dan di kejauhan, PSM Makassar—melalui Alex Tanque—bisa menjadi penentu tak terduga dalam drama perebutan gelar ini.
Pada akhirnya, inilah sepak bola: bukan hanya tentang siapa yang paling kuat, tetapi juga tentang siapa yang mampu memanfaatkan setiap momen—termasuk bergantung pada hasil tim lain di saat yang paling menentukan.





