Kisah Keluarga di Kudus Hidup dari Tumpukan Sampah demi Anak Bisa Sekolah

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Supriyadi (51) dan istrinya, Siti Aisyah (49), setiap harinya bekerja sebagai pemulung. Keduanya mencari sampah yang masih bisa dijual ke pengepul. Rutinitas itu sudah dijalani sejak 2019.

Keduanya menyusuri setiap sudut jalanan Kabupaten Kudus, Jateng, bersama anak tunggalnya yang masih berumur 8 tahun, siswi seebuah madrasah ibtidaiyah, setara SD, kelas 2.

Supriyadi duduk di sepeda motor paling depan, putrinya di tengah, dan istrinya di belakang. Gerobak sampah disambungkan pada bagian belakang motor.

Di rumah sederhana yang ditempati ketiganya, terdapat berbagai sampah hasil memulung. Di antaranya sampah plastik, botol air mineral, cup, kertas, kardus, ranting pohon, dan lainnya.

Setiap hari mereka bertiga memulung sejak pukul 01.30 WIB. Jika putrinya masih terlelap, mereka menunggu hingga azan subuh sebelum berangkat.

Biasanya, beberapa tempat disambangi. Seperti kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Pasar Bitingan Kudus, beberapa titik di jalan lingkar, dan lokasi lainnya.

"Kami berangkat mengendarai sepeda motor bertiga. Di belakang sepeda motor saya ada gerobaknya untuk meletakkan sampah," kata Supriyadi, Kamis (16/4).

Gerobak untuk memuat sampah juga digunakan Supriyadi untuk meletakkan perlengkapan tambal ban. Biasanya, di sela-sela menjadi pemulung, kerap ada pengendara yang mengalami ban bocor. Di situ ia menawarkan jasa tambal ban. Namun, ia tidak mematok tarif, melainkan boleh dibayar seikhlasnya atau bahkan tanpa dibayar pun tidak masalah.

Bekerja sebagai pemulung, ia mencari berbagai jenis sampah, meliputi plastik, botol air mineral, cup, kertas, kardus, kaleng, dan lainnya.

Supriyadi bersama istrinya biasanya menjual sampah yang diperoleh setiap tiga hari sekali. Sampah dikumpulkan terlebih dahulu hingga jumlahnya cukup banyak.

Sampah kardus yang diperoleh selama tiga hari berkisar 100 kilogram. Sedangkan sampah kertas per tiga hari mampu terkumpul 70 kilogram. Sementara sampah plastik dikumpulkan selama beberapa bulan, biasanya hingga empat bulan sampai mencapai 100 kilogram.

"Kalau sehari langsung dijual terlalu sedikit, kecuali ada acara konser atau pengajian. Itu sehari bisa langsung dapat banyak," ujarnya.

Setiap berangkat bekerja, Supriyadi harus mengajak putri semata wayangnya karena khawatir jika ditinggal seorang diri di rumah.

Agar putrinya tidak kedinginan, ia memakaikan jaket. Jika hari sudah pagi, Supriyadi mengantarkan anaknya sekolah. Setelah pulang sekolah, anaknya diajak memulung lagi.

Ketika matahari mulai meninggi, muncul tantangan lain karena putrinya merasa lelah.

Belum lagi jika hujan turun, tumpukan sampah yang diambil rentan basah, terutama kardus dan kertas. Akibatnya, harga jual menurun.

"Kalau kondisi basah, harganya turun sekitar Rp 700 per kilogram. Bahkan ada pengepul yang tidak mau menerima jika kondisinya basah," jelasnya.

Kena Pecahan Kaca

Tak berhenti di situ, ada risiko lain saat memulung. Supriyadi pernah terkena pecahan kaca saat mencari sampah di Kabupaten Pati. Tangannya luka, tetapi tidak diperiksakan karena alasan biaya.

"Kalau sekarang harga sampah kaca turun. Saya tidak lagi mengambil sampah kaca sejak akhir tahun lalu," ucapnya.

Menjadi pemulung sudah dipilih Supriyadi dan istrinya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk biaya sekolah dan menabung.

Tak Punya Ponsel, Utamakan Beras

Kegigihan mereka mampu menghasilkan uang untuk membeli sepeda motor bekas. Selain itu, hasil memulung juga digunakan untuk membeli batu bata dan semen guna memperbaiki rumah secara bertahap.

"Setiap mendapatkan uang dari hasil menjadi pemulung, saya gunakan untuk kebutuhan makan, sekolah, dan menabung. Saya tidak memiliki ponsel, lebih baik untuk membeli beras," kata Supriyadi.

Saat memulung, mereka juga terkadang mencari ranting pohon yang digunakan sebagai bahan bakar memasak pengganti gas.

"Kami memasak masih menggunakan ranting pohon, sehingga tidak perlu menggunakan gas demi menghemat pengeluaran," ucapnya.

Kalau sedang beruntung, ia mendapatkan beras dari dermawan yang melintas. Kadang, pedagang di pasar juga memberinya sayuran.

Supriyadi tak menampik, berkeliling mencari sampah meski menggunakan sepeda motor tetap melelahkan. Namun, rasa lelah itu diabaikan demi menafkahi keluarga dan menyekolahkan putrinya.

"Demi masa depan anak, supaya bisa membayar kebutuhan sekolah. Saya tidak memikirkan lelah dan juga tidak memikirkan omongan orang," imbuhnya.

Ingin Punya Sepeda

Sementara itu, Siti Aisyah mengatakan tantangan saat mencari sampah adalah kondisi putrinya yang terkadang mengeluh lelah dan ingin beristirahat.

"Kalau dia capek, kami istirahat dulu. Kadang dia juga mengeluh lapar dan minta makan," ucapnya.

Ia tak menampik, mencari dan memilah sampah sangat melelahkan. Namun, ia tidak ingin menyerah. Dalam hatinya, ia ingin putrinya terus bersekolah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Trump klaim China dukung pembukaan Selat Hormuz
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Kim Kardashian dan Lewis Hamilton Makin Mesra, Kepergok Belanja Bareng di LA
• 14 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Aturan Jemaah Haji Bawa Rokok ke Tanah Suci, Dibatasi Segini
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Minyak Kita Langka di Bandung, Pedagang Pilih Tak Menjual karena Harganya Tembus Rp240 Ribu per Dus
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Ketika Selat Hormuz Memanas, RI Siapkan Strategi Energi Berani
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.