BEKASI, KOMPAS.com – Psikolog Lena Tri Hastuti menilai, fenomena jasa “teman jalan” tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan akan kedekatan emosional, tetapi juga dipicu dorongan untuk mendapatkan validasi dari lingkungan sosial serta ketakutan terhadap komitmen jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan pasangan atau teman sering kali menjadi simbol status sosial yang dapat meningkatkan citra diri, baik di lingkungan sekitar maupun di media sosial.
“Ada kebutuhan untuk terlihat punya pasangan agar memiliki pengakuan dari lingkungan, dan relasi sekitar. Jadi walaupun itu tidak otentik, tapi bisa digunakan untuk menjaga citra diri,” ujar Lena saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon, Kamis (16/4/2026).
Baca juga: Universitas Budi Luhur Pecat Dosen yang Lecehkan Eks Mahasiswi
Kebutuhan Rasa Memiliki dan KeterhubunganLena menilai setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan rasa memiliki, cinta, dan keterhubungan dengan individu lain. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi secara alami, seseorang cenderung mencari cara alternatif, termasuk dengan menyewa jasa teman jalan.
“Yang dicari itu lebih ke rasa untuk ditemani, diterima, sama dianggap ada,” jelasnya.
Selain kebutuhan validasi, jasa teman jalan juga dipilih karena memberikan rasa aman tanpa tuntutan komitmen jangka panjang.
Lena menyebut narasi yang berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa hubungan serius atau pernikahan adalah sesuatu yang menakutkan atau “marriage is scary” membuat sebagian individu lebih berhati-hati dalam menjalin relasi.
“Jasa teman jalan membuat individu merasa lebih aman karena dia enggak harus berkomitmen jangka panjang,” ujarnya.
Lena menyebut relasi yang bersifat sementara ini memungkinkan individu merasakan kedekatan tanpa harus menghadapi tanggung jawab dan kompleksitas yang biasanya menyertai hubungan jangka panjang.
Manfaat Jangka Pendek dan Risiko Jangka PanjangDari sisi psikologis, Lena menilai bahwa penggunaan jasa teman jalan tidak selalu berdampak negatif. Dalam jangka pendek, layanan ini dapat membantu mengurangi rasa kesepian atau memberikan pengalaman sosial bagi individu yang kesulitan menjalin relasi.
Baca juga: Usai Protes Nelayan, Pengelola NPEA Klaim Sosialisasi Proyek Sudah Dilakukan sejak 2025
Namun, ia mengingatkan adanya risiko jangka panjang jika seseorang terlalu bergantung pada hubungan yang bersifat semu.
“Dampak jangka panjangnya nanti dia jadi ketergantungan dan ada risiko malah menjauh dari relasi yang lebih nyata. Jadi fokusnya dengan hubungan yang semu,” jelas Lena.
Ia juga mengibaratkan potensi ketergantungan tersebut dengan fenomena adiktif lainnya, seperti kecanduan judi atau pinjaman online yang awalnya hanya berangkat dari rasa coba-coba untuk kesenangan sesaat.
Menurut Lena, apabila seseorang mulai merasa ketergantungan, langkah terbaik adalah mencari bantuan profesional seperti berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mengetahui kebutuhan emosional yang sebenarnya belum terpenuhi.
“Kalau misalnya orang tersebut sudah merasa ‘kayaknya aku udah over’, itu lebih baik ditindaklanjuti,” ujarnya.





