HARIAN FAJAR, MAKASSAR — Menjelang duel panas melawan Borneo FC, sorotan tajam kini mengarah pada satu nama di lini depan PSM Makassar: Alex Tanque. Pertanyaannya sederhana, tetapi sarat makna—mampukah ia kembali tajam seperti yang ditunjukkan Ramon Tanque bersama Persib Bandung?
Secara statistik, performa Alex Tanque musim ini memang tidak bisa dibilang buruk. Enam gol dari 24 pertandingan adalah catatan yang masih kompetitif, terutama dalam sistem permainan yang tidak selalu mengandalkan satu striker sebagai pusat serangan. Namun, yang menjadi sorotan adalah tren penurunannya—11 laga terakhir tanpa gol.
Dalam sepak bola, terutama bagi seorang striker, angka seperti ini bukan sekadar statistik. Ia bisa memengaruhi kepercayaan diri, ritme permainan, bahkan persepsi publik terhadap kontribusi seorang pemain.
Gol terakhir Alex sendiri terjadi pada pertemuan putaran pertama melawan Borneo FC. Saat itu, ia sempat membawa harapan bagi PSM, meski pada akhirnya tim harus menyerah 1-2 setelah dua gol dari Joel Vinicius membalikkan keadaan. Kini, pertemuan kedua menghadirkan peluang sekaligus ujian: apakah ia bisa mengulang momen tersebut, kali ini dengan hasil yang berbeda?
Menariknya, mandeknya gol Alex tidak sepenuhnya mencerminkan buruknya performa di lapangan. Secara peran, ia tetap menjadi ancaman. Dengan postur tubuh yang kuat dan kemampuan menjaga bola yang baik, ia sering kali merepotkan lini belakang lawan. Ia bukan tipe striker yang bergantung pada kecepatan, melainkan pada positioning, kekuatan fisik, dan kemampuan bermain sebagai target man.
Di sinilah letak keunikan—sekaligus tantangan—dari gaya bermainnya.
Menurut pengamat sepak bola Imran Amirullah, Alex bukan tipe penyerang yang efektif jika diberi bola terobosan untuk dikejar. Ia bukan sprinter yang mengandalkan kecepatan di ruang terbuka. Sebaliknya, ia lebih optimal ketika bola langsung diarahkan ke dirinya, kemudian ia mengolahnya—baik melalui wall pass, back pass, maupun duel fisik dengan bek lawan—sebelum kembali mencari ruang.
Artinya, produktivitas Alex sangat bergantung pada sistem dan dukungan rekan setim.
Masalah utama yang dihadapi PSM dalam beberapa laga terakhir adalah minimnya suplai bola berkualitas ke area kotak penalti. Tanpa umpan yang tepat, striker dengan karakter seperti Alex akan kesulitan menunjukkan insting predatornya. Ia bisa bekerja keras sepanjang laga, tetapi tanpa peluang bersih, kontribusinya tidak akan tercermin dalam bentuk gol.
Bandingkan dengan Ramon Tanque di Persib. Meski sempat kesulitan di awal musim, ia akhirnya menemukan ritme permainan seiring meningkatnya kualitas distribusi bola dari lini tengah dan sayap. Ketika suplai terjaga, naluri mencetak gol pun ikut bangkit.
Hal serupa kini menjadi harapan bagi PSM.
Laga di Stadion BJ Habibie pada 18 April 2026 bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah momentum bagi Alex untuk memutus puasa gol, sekaligus membuktikan bahwa ia masih menjadi ujung tombak yang bisa diandalkan. Apalagi, Borneo FC bukan lawan asing baginya—ia sudah pernah mencetak gol ke gawang mereka.
Namun tentu saja, tantangan kali ini tidak akan mudah.
Borneo dikenal memiliki lini pertahanan yang disiplin dan sulit ditembus. Mereka juga datang dengan motivasi tinggi dalam perburuan gelar. Dalam situasi seperti ini, peluang mungkin tidak akan datang banyak—dan di sinilah efektivitas menjadi kunci.
Jika Alex mampu memanfaatkan satu atau dua peluang yang ada, itu bisa menjadi pembeda.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang ketajaman Alex bukan hanya soal individu. Ini adalah soal kolektivitas tim. Seberapa baik lini tengah PSM mampu menciptakan peluang, seberapa cerdas pemain sayap dalam mengirimkan umpan, dan seberapa efektif koordinasi serangan yang dibangun.
Karena bagi striker seperti Alex Tanque, satu umpan yang tepat bisa berarti satu gol.
Dan satu gol, dalam laga sebesar ini, bisa berarti segalanya.





