Bisnis.com, SEMARANG — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksikan bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir, setelah mengisyaratkan bahwa negosiasi dengan Iran akan dilanjutkan di minggu ini.
Dilansir dari laman Time, Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News mengatakan bahwa konflik dengan Iran dapat segera berakhir, sekaligus membenarkan keputusannya untuk melancarkan serangan bersama dengan Israel pada 28 Februari 2026 dan perang yang terjadi setelahnya.
“Kalau aku tidak melakukan itu, Iran pasti sudah punya senjata nuklir, dan kalau mereka punya senjata nuklir, kalian pasti akan memanggil semua orang di sana dengan sebutan “tuan”, dan kalian tentu tidak mau begitu,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News, dikutip Kamis (16/04/2026).
Tak hanya itu, dalam wawancara tersebut Trump juga menyebut bahwa Iran sangat ingin membuat kesepakatan setelah negosiasi yang gagal antara AS dan Iran di Pakistan pada akhir pekan lalu. “Jika saya pergi sekarang juga, mereka membutuhkan waktu 20 tahun untuk membangun kembali negara itu, dan kita belum selesai,” tambahnya.
Terkait pembicaraan kedua, Trump mengatakan bahwa pembicaraan putaran kedua akan terjadi dalam dua hari ke depan dan akan berlangsung di Islamabad. Sementara itu, dalam wawancara terpisah, Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran sangat mungkin tercapai, bahkan sebelum kunjungan Raja Charles III ke Gedung Putih pada 27 berlangsung.
Selain Trump, dilansir dari laman Euronews, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga mengatakan bahwa sangat mungkin pembicaraan akan dimulai kembali, setelah percakapannya dengan Wakil Perdana Menteri Pakistan Ishaq Dar.
“Akan sangat penting jika pembicaraan ini menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya perubahan dalam cara para pihak menjalankan kegiatan mereka,” kata Guterres.
Sebelumya, AS dan Iran telah melakukan negosiasi pertama yang bertujuan untuk mengakhiri perang namun berujung gagal. Salah satu poin utama yang menjadi perselisihan dalam negosiasi di Pakistan tersebut adalah penolakan Iran untuk melepaskan haknya atas program nuklir damai, sesuatu yang disebut Trump sebagai kegagalan utama pembicaraan tersebut.
Keinginan Iran untuk terus mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz setelah konflik berakhir melalui sistem tol juga terbukti menjadi titik permasalahan.
Meski Trump sudah mengklaim bahwa Iran menginginkan kesepakatan, negara Republik Islam tersebut tetap menyatakan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk mencapai kesepakatan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengatakan bahwa selama pembicaraan di Islamabad, Iran telah menyampaikan pandangannya terkait berbagai isu mulai dari nuklir, pencabutan sanksi, dan kompensasi.
Lebih lanjut, dalam konferensi pers, Baghaei menyebut bahwa salah satu isu yang masih ditekan oleh pihak Amerika Serikat adalah isu mengenai nuklir. Baghaei menyebut bahwa posisi AS tidak dapat diterima oleh Iran dan masih harus didiskusikan.
Di samping itu, Baghaei mengatakan bahwa perjanjian gencatan senjata memang mencakup penghentian sementara pertempuran di Lebanon antara Hizbullah dan pasukan Israel, yang hingga kini belum terwujud. (Fadya Jasmin Malihah)




