Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kejahatan digital berupa fraud dan scam kini telah berkembang menjadi industri yang terorganisir, seiring meningkatnya kompleksitas modus dan pemanfaatan teknologi canggih oleh pelaku.
Sekretariat Satgas PASTI OJK, Hudiyanto, mengatakan pelaku kejahatan kini semakin adaptif dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI), rekayasa sosial, hingga otomatisasi serangan.
“Pelaku kejahatan sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan sistem pengamanan yang ada saat ini,” ujarnya dalam acara diskusi Selalu Waspada: Forum Kolaboratif Penanganan Fraud dan Scam Digital yang diselenggarakan Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, kondisi ini membuat penanganan fraud dan scam tidak lagi bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui pendekatan terkoordinasi lintas sektor.
Sebagai respons, Indonesia Anti Scam Centre (IASC) akan mengembangkan sistem anti-scam nasional yang lebih terintegrasi dan terotomatisasi.
Sistem ini ditargetkan mampu mempercepat pemblokiran rekening pelaku, pelacakan dana, hingga penyusunan profil pelaku secara lebih presisi.
Baca Juga
- OJK Soroti Keterbatasan Akses Pembiayaan UMKM, Peran Industri Penjaminan Didorong
- Ini Usul Bos BTN saat OJK Bakal Revisi Ketentuan SLIK untuk Permudah KPR
- Jurus OJK Perkuat SLIK demi Akselerasi 3 Juta Rumah
Selain itu, sistem juga akan dilengkapi dengan mekanisme watchlist yang dapat dibagikan kepada industri jasa keuangan, sehingga bank dan lembaga keuangan dapat melakukan mitigasi lebih dini terhadap rekening yang terindikasi terlibat penipuan.
Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia, Firlie Ganindunto, menekankan bahwa eskalasi scam dan fraud telah menjadi tantangan sistemik yang mengancam fondasi kepercayaan ekonomi digital.
Ia menyebut, pelaku kejahatan kini juga membangun kolaborasi yang kuat, sehingga penanganannya pun harus dilakukan dengan pendekatan serupa.
“Kalau pelaku bisa berkolaborasi, maka kita juga harus membangun kolaborasi yang sama kuatnya,” katanya.
Sementara itu, Deputi BSSN Slamet Aji Pamungkas menyoroti bahwa ancaman siber selama ini banyak tidak terdeteksi, layaknya fenomena gunung es.
Menurutnya, pendekatan keamanan tidak bisa lagi hanya berfokus pada ancaman yang terlihat, tetapi juga harus mengantisipasi potensi risiko tersembunyi yang jauh lebih besar.





