Jujur saja, saya pernah jadi pelaku aktif kejahatan kecil bernama “OTW” (On The Way).
Kejahatannya sederhana. Tidak merugikan negara, tidak juga masuk berita utama. Tapi dampaknya cukup terasa setidaknya bagi orang yang menunggu.
Waktu itu, seorang teman sudah nunggu di sebuah kafe. Harusnya kami ketemu jam 4 sore. Jam 3.55, saya masih di rumah. Bukan dalam tahap bersiap, melainkan masih tenggelam dalam tontonan, dengan perasaan waktu masih panjang.
Lalu pesan masuk:
“Udah di mana bro?”
Tanpa banyak mikir, jempol saya langsung merespons lebih cepat dari tubuh saya:
“OTW ya.”
Padahal… ya jelas belum.
Anehnya, setelah kirim pesan itu, saya malah tambah lebih santai. Seolah dengan bilang ‘OTW’, saya sudah bergerak. Padahal kenyataannya, saya masih di posisi yang sama cuma beda status doang, dari orang yang belum berangkat jadi orang yang ngaku sudah berangkat.
Lima menit kemudian, saya masih di rumah. Hingga setengah jam, masih keasikan. Baru setelah itu muncul sedikit panik. Bukan karena telat, tapi karena sadar ini “OTW” saya sudah mulai basi.
Di situasi itu, saya langsung gerak. Tanpa mandi dan gosok gigi. Cuma semprot parfum, seolah itu cukup.
Aromanya wangi, tapi nasib tetap nekat. Yang penting berangkat dulu, urusan malu belakangan.
Sepanjang jalan, saya malah sibuk merancang beberapa alasan. Macetlah, parkiran penuhlah, atau alasan klasik yang sering digunakan “tadi ada urusan sebentar.” Semua itu terasa lebih mudah daripada mengakui satu hal sederhana: Saya memang belum berangkat saat bilang “OTW”.
Sampai di kafe, teman saya cuma bilang, “Lama juga ya OTW-nya.” Saya cuma bisa tersenyum, tapi di dalam hati mulai terasa bersalah dia sudah menunggu hampir satu jam.
Dengan nada pelan, saya mencoba menjawab, “Tadi ada tamu keluarga.” Seolah itu cukup untuk menjelaskan semuanya.
Dia ketawa. Saya juga ikut ketawa. Tapi di dalam hati, ada rasa kecil yang agak nggak enak. Bukan karena telatnya, tapi karena saya tahu saya baru saja menjual dua huruf murah yang nilainya lebih mahal dari yang saya kira.
Kebohongan kecil yang terlalu sering dipakai, lama-lama terasa seperti kebenaran. Dia bisa jadi jebakan. Awalnya dipakai biar aman, tapi lama-lama bikin kita terbiasa nggak jujur meskipun cuma sedikit.
Dan yang paling bahaya, kita jadi kebal dan terbiasa. Nggak merasa itu masalah lagi.
Selain itu, kebiasaan bilang “OTW” padahal belum jalan juga soal ngasih harapan ke orang lain. Begitu kita bilang “OTW”, kesannya kita sudah dekat, padahal belum tentu.
Kalau harapan itu nggak kejadian, yang muncul bukan cuma telat, tapi juga kecewa kecil yang berulang. Kalau terus begitu, lama-lama kepercayaan bisa ikut terkikis bukan karena kesalahan besar, tapi karena kebiasaan kecil yang nggak sesuai terus diulang.
Sekarang, saya masih kadang telat. Masih manusia. Tapi setidaknya saya berusaha mengurangi satu kebiasaan: bilang “OTW” sebelum benar-benar jalan.
Kadang saya ganti dengan,
“Masih di rumah, 15 menit lagi ya.”
Memang terasa lebih “nanggung”. Nggak se-keren “OTW”. Tapi entah kenapa, rasanya lebih lega. Nggak perlu kejar-kejaran sama kebohongan sendiri di jalan.
Karena ternyata, yang bikin capek itu bukan telatnya. Tapi menjaga cerita supaya terlihat tepat waktu.
Dan dari semua pelajaran kecil itu, saya akhirnya paham: “OTW” itu bukan sekadar perjalanan.
“OTW” mungkin terdengar sepele. Namun dalam konteks tertentu, ia adalah cermin: tentang seberapa jauh kita bersedia jujur, bahkan ketika tidak ada yang benar-benar menuntutnya.
Kalau dipikir-pikir, mungkin suatu hari nanti akan ada kamus versi jujur: OTW = “Orang Tunda Waktu”. Dan kalau itu benar terjadi, saya rasa kita semua pernah jadi penulisnya minimal satu dua kali, dengan wajah santai dan jempol yang terlalu percaya diri.





