Sejak 2024, pemerintahan Prabowo-Gibran mengusung program Astacita untuk lima tahun ke depan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) kemudian mengadaptasinya dengan menetapkan delapan bidang prioritas riset nasional. Bidang tersebut meliputi pangan, energi terbarukan, kesehatan, transportasi, rekayasa keteknikan, pertahanan dan keamanan, kemaritiman, serta kemandirian sosial dan budaya.
Sebagai salah satu garda terdepan yang bertanggung jawab atas tata kelola riset dan kebermanfaatannya bagi masyarakat, sepanjang tahun 2025, Kemendiktisaintek menunjukkan komitmennya dengan pelaksanaan 16.836 kegiatan riset serta 6.340 pengabdian kepada masyarakat. Upaya ini menegaskan tridarma perguruan tinggi melalui pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat masih menjadi pedoman utama.
Keseriusan pemerintah mendorong kemajuan riset berdampak pun terlihat pada pemerataan pendanaan. Terbukti, telah tersalurkan Rp 2 triliun anggaran untuk riset secara lebih berimbang dengan proporsi 49 persen perguruan tinggi swasta (PTS) dan 51 persen perguruan tinggi negeri (PTN). Langkah ini pun menjadi stimulus strategis yang dibuktikan dengan peningkatan angka partisipasi riset PTS dari 52,6 persen pada 2024 menjadi 62,2 persen pada 2025.
Di kancah global, kinerja inovasi Indonesia bahkan berhasil menyandang predikat innovation overperformer yang berarti berhasil melampaui tingkat pembangunan ekonomi. Tidak hanya itu, berdasarkan Global Innovation Index, Indonesia juga berhasil naik 8 peringkat dari peringkat ke-67 ke peringkat ke-57 dari total 153 negara.
Hal ini membuktikan dampak positif dari upaya Kemendiktisaintek melalui Ditjen Risbang dalam menjaga mendat riset melalui tata kelola yang solid. Serapan anggaran pada tahun lalu mencapai 96,3 persen yang disertai dengan 100 persen output dan kontrak kinerja. Keseriusan dalam hilirisasi riset juga terlihat dari 726 produk riset dan 929 kerja sama industri yang dihasilkan, serta terjalinnya kemitraan internasional dengan beberapa negara, seperti Australia, Belanda, Perancis, dan Inggris.
Hilirisasi riset juga dibuktikan melalui aksi cepat tanggap pada kondisi darurat ketika terjadi bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjelang akhir 2025. Selain menurunkan ribuan tenaga sivitas akademika bidang kesehatan sebagai bentuk pengabdian, bantuan teknologi untuk penanganan bencana, seperti filtrasi air layak pakai dinilai berdampak dan ramai diapresiasi masyarakat di media sosial.
Capaian dan prestasi yang telah disebutkan layak diapresiasi sebagai langkah awal yang menjanjikan. Dalam hal ini, Kemendiktisaintek berhasil menunjukkan bahwa tata kelola lembaga yang solid, transparan, dan bertanggung jawab akan sangat mungkin mengantarkan pada terwujudnya cita-cita riset yang berdampak. Menariknya, hal selaras tecermin juga dengan temuan Survei Omnibus Nasional Litbang Kompas pada 25 September sampai 3 Oktober 2025. Publik cenderung memberikan apresiasi positif.
Lima jawaban teratas atas pelaksanaan riset nasional yang dianggap sudah baik oleh responden, yakni riset memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat (24,7 persen), masyarakat merasa sudah dilibatkan dalam riset (22,2 persen), prioritas riset sesuai dengan kebutuhan masyarakat (9,2 persen), adanya koordinasi lintas sektor dari akademisi, industri, dan pemerintah (7,6 persen), serta hasil riset mengurangi ketergantungan impor (7,3 persen).
Secara lebih spesifik, dari skala 1-10, penilaian responden cukup tinggi (rerata di angka 7,0) atas persetujuan bahwa riset bisa menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, temuan-temuan tersebut bukan tanpa tantangan.
Masih dari hasil survei, masyarakat juga menitipkan sejumlah pekerjaan rumah yang menunggu untuk diselesaikan. Tiga bidang yang dianggap responden mendesak untuk diselesaikan dalam waktu dekat (kurang dari setahun) ataupun demi kemajuan bangsa dan negara melalui riset secara konsisten meliputi pengentasan warga dari kemiskinan, pangan, dan kesehatan. Perlu diingat ketiganya berkaitan erat dengan program prioritas.
Hal berikutnya yang perlu menjadi catatan, responden juga masih menyimpan kekhawatiran. Lima jawaban teratas yang menjadi kekhawatiran, yaitu pemanfaatan anggaran riset yang tidak sesuai (30,4 persen), riset kurang berdampak bagi kehidupan (14,9 persen), biaya riset terlalu mahal (11,2 persen), kurangnya kolaborasi lintas sektor antara akademisi, industri, dan pemerintah (6,6 persen), dan minimnya infrastruktur pendukung (5,3 persen).
Menariknya, yang dinilai sudah baik terkait pelaksanaan riset pun sejatinya menyisakan kekhawatiran di benak responden khususnya terkait dampak riset dan koordinasi lintas sektor. Hal ini mencerminkan bahwa masyarakat tetap bersikap kritis terhadap pelaksanaan riset nasional.
Aspirasi ini pun menyiratkan harapan supaya pelaksanaan yang sudah berjalan dengan baik jangan sampai malah mengalami kemunduran. Masyarakat seolah sedang mewanti-wanti bahwa ’mempertahankan jauh lebih sulit dibandingkan mencapai’. Guna merawat harapan ini, perspektif Paul Feyerabend terasa relevan.
Dalam bukunya, Against Method (tahun terbit asli 1974, edisi 2010), Feyerabend berpendapat bahwa sejatinya tidak ada satu jalan yang paling benar dalam sains. Oleh karena itu, seorang peneliti pun tidak dalam posisi yang lebih tinggi dibanding siapa pun dalam menentukan arah kemajuan pengetahuan. Mereka hanya tahu lebih rinci.
Konsekuensinya, publik tidak hanya diposisikan sebagai yang merasakan manfaatnya saja karena keterlibatannya juga memainkan posisi yang strategis. Sebagaimana yang muncul dari temuan survei, publik mengapresiasi pelaksanaan riset justru karena adanya keterlibatan masyarakat di dalamnya.
Pada akhirnya, ketika kesadaran tidak cepat puas bisa menjadi bahan bakar utamanya, maka laju kerja-kerja riset juga harus bisa digerakkan secara maraton. Orientasinya bukan hanya berfokus pada respons cepat terhadap kondisi aktual semata, melainkan sekaligus mampu mempertahankan dampak positif jangka panjang secara persisten.
Prinsipnya, perspektif pemerintah dalam menyusun prioritas riset nasional perlu diselaraskan dengan kebutuhan masyarakat. Jalannya dapat dilalui dengan membuka lebih banyak ruang penyerapan aspirasi. Langkah ini merupakan bentuk keseriusan terhadap kewajiban konsensus bernegara dan upaya menunaikan mandat rakyat. (LITBANG KOMPAS)
Serial Artikel
Riset Kampus Diarahkan untuk Jawab Kebutuhan Industri dan Daerah
Indonesia butuh terobosan untuk menjadi negara maju dengan menguatkan industri berbasis iptek. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu diorkestrasi.





