Digelar di Palembang, Andalas Forum VI 2026 Bahas Tata Kelola dan Keberlanjutan Industri Sawit

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, PALEMBANG — Agenda tahunan industri sawit, Andalas Forum VI Tahun 2026, resmi dimulai pada 16–17 April 2026 di Hotel Aryaduta Palembang, Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel).

Forum rutin yang diselenggarakan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) se-Sumatera ini melibatkan peserta dari Sumatra Selatan, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Bengkulu, Jambi, serta Bangka Belitung.

Tahun ini, forum mengusung tema “Sawit Indonesia: Sinergi untuk Tata Kelola, Pertumbuhan Ekonomi dan Berkelanjutan”, yang menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan industri sawit nasional.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menilai tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi industri sawit yang saat ini dihadapkan pada tuntutan tata kelola yang terus berkembang.

“Yang tentunya harus kita dapat menyikapinya dengan bijak, jangan sampai tuntutan tata kelola ini menjadi boomerang bagi keberlanjutan industri sawit,” ujarnya dalam sambutan pembukaan Andalas Forum VI, Kamis (16/4/2026).

Menurut Eddy, industri sawit selama ini telah menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya sebagai sumber pendapatan masyarakat dan tenaga kerja, pendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta sumber utama devisa negara.

Baca Juga

  • Harga Sawit Naik, Gapki Sumsel: Belum Seimbang dengan Kenaikan Biaya Operasional
  • Sawit Mahal, Petani Riau Tertekan Lonjakan Harga Pupuk

Pada 2022, devisa ekspor dari industri kelapa sawit tercatat mencapai US$39 miliar, yang turut mendorong surplus neraca perdagangan Indonesia sebesar US$56 miliar. Sementara itu, pada 2025, perolehan devisa ekspor sawit kembali meningkat menjadi US$35,9 miliar, setelah mengalami dinamika pada 2023 dan 2024.

Oleh karena itu, kata dia, sinergi antara pelaku industri sawit dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam mewujudkan pembangunan industri sawit yang berkelanjutan, sekaligus mendukung visi Indonesia Emas 2045.

“Namun kami yakin, dengan pengalaman yang berhasil melampaui berbagai krisis, termasuk krisis Covid dan dampak perang teluk, industri sawit ke depan akan memberikan peranan yang penting bagi Indonesia,” tuturnya.

Tantangan Industri Sawit

Lebih lanjut, Eddy memaparkan sejumlah tantangan strategis yang masih dihadapi industri sawit. Pertama, peningkatan produksi dan produktivitas harus menjadi prioritas utama melalui peremajaan tanaman serta penerapan good agricultural practice (GAP) dan good manufacturing practices (GMP).

Kedua, terkait kepastian hukum dan kepastian berusaha, penyelesaian persoalan perkebunan sawit yang masuk dalam kawasan hutan dinilai masih belum tuntas.

“Tentunya mengharapkan dengan keluarnya Perpres 5 Tahun 2025 serta dibentuknya Satgas Penertiban Kawasan Hutan, permasalahan tersebut dapat segera dituntaskan untuk kepastian berusaha dan keberlanjutan investasi industri sawit,” jelasnya.

Ketiga, gejolak ekonomi global akibat konflik di Timur Tengah yang belum berakhir turut berdampak pada industri sawit, terutama terhadap kenaikan biaya produksi seperti BBM dan pupuk.

Keempat, tantangan hilirisasi dan peningkatan daya saing juga menjadi perhatian utama. Pemerintah telah menetapkan kebijakan hilirisasi bioenergi melalui penerapan B50 mulai 1 Juli 2026, yang diperkirakan akan memengaruhi permintaan CPO dan berpotensi mengurangi ketersediaan CPO untuk ekspor.

“Untuk itu, produksi harus dapat kita tingkatkan terutama melalui peremajaan tanaman khususnya melalui Program PSR dengan menggunakan klon-klon unggul serta menerapkan GAP dan GMP,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua GAPKI Sumsel Alex Sugiarto menambahkan bahwa pelaksanaan Andalas Forum VI di Palembang menjadi ruang diskusi yang komprehensif untuk menyalurkan berbagai ide mengenai masa depan industri sawit.

“Makanya tema kita sinergi tata kelola, jadi dari sisi tata kelola seperti apa, pertumbuhan ekonomi, dan juga sawit ini kan berkelanjutan jadi ada ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Jadi kami bahas secara komprehensif,” ujar Alex.

Terkait aspek tata kelola, Alex menegaskan bahwa GAPKI akan terus menyelaraskan langkah dengan kebijakan pemerintah.

“Jadi regulasi pemerintah tentu harus kita taati, ikuti dan jalankan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Herman Deru Herman Deru berharap Andalas Forum VI Tahun 2026 dapat menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat bagi pengembangan industri sawit.

“Jadi ada produk rekomendasi yang dihasilkan dan bermanfaat, baik itu untuk petani sawit perkebunan dan lain sebagainya,” ujarnya.

Melalui forum ini, diharapkan industri sawit semakin memperkuat perannya sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional, termasuk di Sumsel.

Andalas Forum VI terdiri atas rangkaian seminar strategis yang dirancang untuk menjawab berbagai isu krusial industri sawit, baik di tingkat nasional maupun global.

Selain itu, kegiatan ini juga diramaikan oleh 48 stand pameran serta 44 exhibitor, yang menampilkan berbagai inovasi serta dukungan terhadap perkembangan industri kelapa sawit.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dua Pilot di AS ‘Mengeong’ dan ‘Menyalak’ di Radio ATC Bandara, FAA Selidiki
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Kisah Petani Punk Gunungkidul Pemasok Dapur MBG
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Festival of JOY 2026, Paket Lengkap Layanan BMW & MINI
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Pemkot Jakarta Timur Gencarkan Penangkapan Ikan Sapu-sapu demi Selamatkan Ekosistem Sungai
• 6 jam lalupantau.com
thumb
Banyak Siswa yang Mundur, Sekolah Rakyat 7 Probolinggo Pakai Kurikulum Khusus
• 22 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.