Biji Kelor Bisa Menghilangkan Mikroplastik dari Air

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMOPAS-Mikroplastik telah ditemukan di berbagai lingkungan, termasuk air minum dalam kemasan hingga kopi yang diseduh di dalam wadah plastik. Eksperimen terbaru menunjukkan, biji kelor memiliki potensi untuk menghilangkan mikroplastik dari air.

Studi yang dilakukan di Institut Sains dan Teknologi Universitas Negeri São Paulo (ICT-UNESP) di Brasil, tentang manfaat potensial biji kelor (Moringa oleifera) ini diterbitkan di jurnal ACS Omega.

Tanaman kelor diketahui berasal dari India dan beradaptasi dengan baik di berbagai negara tropis, termasuk di Indonesia. Tanaman ini telah lama menjadi bagian dari konsumsi masyarakat Indonesia, dan dikenal memiliki kandungan nutrisi cukup lengkap. Sebagai makanan, kelor biasanya dikonsmsi bagian daun, bunga. dan bijinya yang masih muda.

Selama beberapa tahun, para peneliti telah mempelajari potensi biji moringa dalam membersihkan air. “Kami menunjukkan ekstrak garam dari biji itu memiliki kinerja mirip dengan aluminium sulfat,” kata Gabrielle Batista, penulis pertama studi tersebut, dalam keterangan tertulis yang dikeluarkan São Paulo Research Foundation, pada Kamis (16/4/2026).

Selama ini alumninium sulfat digunakan di instalasi pengolahan air untuk menggumpalkan air yang mengandung mikroplastik. Di perairan yang lebih basa, kinerjanya bahkan lebih baik daripada produk kimia tersebut.

Adriano Gonçalves dos Reis, profesor di ICT-UNESP, mengkoordinasikan penelitian dan juga memimpin proyek riset yang diberi judul "Filtrasi Langsung dan In-Line untuk Penghilangan Mikroplastik dari Air Minum."

Menurut Reis, dalam studi ini, para peneliti berfokus pada pembersihan air melalui filtrasi inline. Dalam proses ini, air dikoagulasi, yang mendestabilisasi partikel, lalu melewati filter pasir. Metode pengolahan ini cocok untuk air dengan kekeruhan rendah, artinya air lebih jernih dan tidak memerlukan banyak proses pendahuluan.

Kami menunjukkan ekstrak garam dari biji itu memiliki kinerja mirip dengan aluminium sulfat.

Koagulasi sangat penting karena polutan, seperti mikroplastik, memiliki muatan listrik negatif pada permukaannya dan saling tolak menolak serta menolak pasir dalam filter pengolahan air.

Baca JugaMikroplastik Kembali Ditemukan di Tubuh Manusia, Kini di Jaringan Tulang

Koagulan, seperti ekstrak garam dan kelor, yang bisa dibuat di rumah, dan aluminium sulfat, menetralkan muatan ini. Hal ini menyebabkan polutan menggumpal sehingga dapat disaring.

Serial Artikel

Mikroplastik Ditemukan pada Air Galon Sekali Pakai

Hasil penelitian pada air minum dalam galon sekali pakai mengandung mikroplastik. Jumlahnya melebihi kandungan mikroplastik yang berada di sumber mata airnya.

Baca Artikel
Efektivitas biji kelor

Para peneliti menguji efektivitas biji moringa untuk koagulasi dalam siklus pengolahan air lengkap, yang melibatkan flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi. Untuk menguji efektivitas metode pengolahan air, mereka menggunakan air keran yang telah terkontaminasi mikroplastik dari polivinil klorida (PVC) yang telah lapuk.

Mikroplastik dari sumber ini dipilih karena PVC adalah salah satu plastik paling berbahaya bagi kesehatan manusia karena potensi mutagenik dan karsinogeniknya yang telah didokumentasikan. PVC banyak ditemukan di permukaan badan air dan di air yang diolah dengan proses tradisional.

Air yang terkontaminasi mikroplastik tersebut mengalami koagulasi dan filtrasi dalam uji tabung, sebuah alat yang mereplikasi proses pengolahan air dalam skala kecil. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan hasil uji yang sama pada air yang diolah dengan aluminium sulfat, senyawa yang digunakan dalam pengolahan tradisional.

Baca JugaMikroplastik Mengganggu Mikrobioma, Ancaman bagi Kesehatan Manusia

Menurut laporan ini, ekstrak biji kelor memiliki sifat seperti magnet alami bagi partikel kecil. Ketika dimasukkan ke dalam air, ia membantu menggumpalkan partikel mikroplastik yang tadinya tersebar. Gumpalan ini kemudian menjadi cukup besar untuk disaring.

Dalam dunia pengolahan air, proses ini disebut koagulasi dan filtrasi, biasanya dilakukan dengan bahan kimia seperti tawas. Menariknya, kelor mampu melakukan hal serupa yang biasanya dilakukan tawas.

Mikroskop elektron pemindaian (SEM) digunakan untuk menghitung partikel mikroplastik sebelum dan sesudah pengolahan. Hasilnya eksperimen ini menunjukkan, lebih dari 98 persen mikroplastik berhasil dihilangkan, yang menunjukkan efektivitasnya hampir sama dengan bahan kimia konvensional.

“Satu-satunya kekurangan yang ditemukan sejauh ini (terkait penggunaan biji kelor) yakni peningkatan zat organik terlarut, yang penghilangannya dapat membuat proses jadi lebih mahal. Dalam skala kecil, seperti di lahan pertanian dan di komunitas kecil, metode ini dapat digunakan secara hemat biaya dan efisien,” kata Reis.

Menurut para peneliti, penggunaan ekstrak biji kelor ini dapat menambah sedikit bahan organik dalam air. Namun dalam riset ini, efek itu justru diimbangi dengan kemampuan kelor menghilangkan sebagian besar senyawa organik berbahaya, hingga 88 persen. Artinya, meski ada residu, kualitas air secara keseluruhan tetap membaik.

Dibandingkan penggunaan tawas atau alumunium sulfat, penggunaan ekstrak kelor dinilai jauh lebih aman dalam penjernihan air. Penjerniah air dengan tawas bisa menghasilkan residu alumunium bisa tersisa dalam air jika dosis tidak tepat, selain menghasilkan sludge atau endapan yang berpotensi mencemari lingkungan.

Kelompok peneliti dari Sau Paulo itu kini sedang menguji ekstrak biji moringa menggunakan air yang diambil langsung dari Sungai Paraíba do Sul, yang memasok air ke São José dos Campos. Dalam percobaan yang telah dilakukan sejauh ini, produk tersebut terbukti cukup efektif dalam mengolah air alami.

"Ada peningkatan pengawasan regulasi dan kekhawatiran kesehatan terkait penggunaan koagulan berbasis aluminium dan besi, karena tidak dapat terurai secara hayati, meninggalkan toksisitas residu, dan menimbulkan risiko penyakit. Karena alasan itu, pencarian alternatif yang berkelanjutan semakin intensif," simpul Reis.

Dampak mikroplastik

Produksi plastik global yang mencapai lebih dari 400 juta ton tiap tahun kini menimbulkan ancaman makin nyata. Sampah plastik telah mencemari pantai, sungai, dan palung laut terdalam di kedalaman 11.000 meter. Proses produksinya pun diperkirakan menghasilkan 1,8 miliar ton emisi gas rumah kaca per tahun yang memicu krisis iklim.

Berbagai hasil studi telah mengungkap partikel plastik berukuran mikro tidak hanya menumpuk di lingkungan, tapi juga masuk ke tubuh manusia hingga organ terdalam, seperti jaringan jantung dan darah. Studi menemukan adanya paparan mikroplastik di dalam tulang manusia.

Penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal Osteoporosis International, Juni 2024, meninjau 62 artikel ilmiah terkait mikroplastik dan tulang. Studi ini merupakan bagian dari proyek yang didukung Yayasan Penelitian Sao Paulo (FAPESP), sebuah lembaga riset di Brasil.

Hasil kajian menyebutkan, mikroplastik berpotensi merusak kesehatan tulang dengan berbagai cara. Contoh penting yakni kemampuannya mengganggu fungsi sel punca sumsum tulang dengan mendorong pembentukan osteoklas, yaitu sel berinti banyak yang mendegradasi jaringan melalui proses yang dikenal sebagai resorpsi tulang.

Koordinator Laboratorium Studi Mineral dan Tulang dalam Nefrologi (Lemon) di Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Negeri Campinas (FCM-Unicamp) Rodrigo Bueno de Oliveira mengemukakan, dampak potensial mikroplastik pada tulang merupakan subyek studi ilmiah yang tidak dapat diabaikan dan perlu mendapat perhatian khusus. (Kompas.id, 21 September 2025)

Selain itu cemaran partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter terbukti dapat mengubah mikrobioma usus manusia. Beberapa perubahan itu menyerupai pola yang terkait dengan depresi dan kanker kolorektal. Ini menjadi risiko kesehatan serius yang disebabkan oleh mikroplastik.

Penelitian tersebut dipresentasikan di United European Gastroenterology (UEG) Week 2025 oleh para peneliti dari Center for Biomarker Research in Medicine, pusat riset di Austria yang fokus pada biomarker dan kedokteran presisi, Selasa (7/10/2025). Riset ini menawarkan wawasan baru tentang potensi dampak kesehatan dan menyoroti kebutuhan mendesak untuk penyelidikan lebih lanjut. (Kompas.id, 8 Oktober 2025)





Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DADA Raup Pendapatan Rp43,13 Miliar Sepanjang 2025
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Lebih dari Setahun Setelah Angkat Kaki, Shin Tae-yong Baru Buka-bukaan Soal Alasan Terima Tawaran Latih Timnas Indonesia
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Semua Jenazah Korban Helikopter Jatuh di Sekadau Kalbar Berhasil Dievakuasi
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
PLN Pasang Teknologi Baru, Listrik Jatim Makin Kebal Gangguan
• 11 jam lalurepublika.co.id
thumb
Optimasi AI Dongkrak Produktivitas BUMDes Di Lebak
• 11 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.