KOMPAS.com - Fenomena El Nino “Godzilla” diprediksi berpotensi terjadi di Indonesia selama musim kemarau 2026, sekitar April hingga Oktober, dengan dampak utama berupa cuaca lebih panas, kemarau lebih panjang, dan penurunan curah hujan.
Kondisi ini tidak hanya memicu kekeringan dan krisis air, tetapi juga meningkatkan paparan sinar ultraviolet (UV) serta memperburuk kualitas udara yang berisiko bagi kesehatan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, sejumlah kelompok disebut paling rentan terdampak, mulai dari anak-anak, lansia, hingga pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Berdasarkan peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi:
- Anak-anak, terutama balita
- Lansia
- Penderita penyakit kronis seperti jantung, paru, dan diabetes
- Pekerja luar ruangan
Kelompok ini dinilai lebih mudah mengalami gangguan kesehatan ketika suhu meningkat dan kualitas udara menurun secara bersamaan.
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengingatkan bahwa panas ekstrem tidak bisa dianggap remeh karena berdampak langsung pada kondisi tubuh.
“Suhu yang tinggi tidak hanya meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi, tetapi juga memperberat penyakit kronis seperti jantung dan paru,” ujarnya.
Baca juga: El Nino Godzila Ancam Ekonomi Jakarta, Pramono Waspada, Pakar Soroti Risiko Inflasi Pangan
Ancaman Kesehatan: Udara kotor, Sinar UV, Kesehatan MentalEl Nino dapat memicu kenaikan suhu dan penurunan kualitas udara secara bersamaan.
Udara yang lebih kering dan berdebu meningkatkan konsentrasi partikulat halus, yang dapat memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan.
Kondisi ini menciptakan tekanan ganda, yakni tubuh harus menghadapi panas ekstrem sekaligus paparan polusi.
Selain itu, di balik langit cerah saat kemarau, paparan sinar ultraviolet (UV) menjadi ancaman serius yang sering tidak disadari.
Menurut dr. Irwan Saputra Batubara, paparan UV berlebihan dapat merusak DNA sel kulit dan meningkatkan risiko kanker kulit.
Beberapa dampak yang bisa terjadi akibat paparan UV:
- Kulit terbakar (sunburn): kemerahan, panas, hingga melepuh
- Hiperpigmentasi: muncul noda gelap akibat produksi melanin berlebih
- Penuaan dini: kerutan dan kulit kendur
- Penurunan imunitas kulit: kulit lebih rentan iritasi
- Kanker kulit: akibat kerusakan DNA jangka panjang
Paparan UV paling kuat terjadi pada pukul 10.00 hingga 16.00 WIB. Bahkan, sinar UVA dapat menembus kaca jendela, sehingga risiko tetap ada meski berada di dalam ruangan.
Suhu panas ekstrem juga berdampak pada kondisi psikologis.





