Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Selatan (Jaksel) menelusuri olahan ikan sapu-sapu dalam pengawasan pangan terpadu sebagai upaya menjamin keamanan konsumen.
"Karena kita setiap bulan ada pengawasan pangan terpadu," kata Kepala Sudin KPKP Jakarta Selatan Ridho Sosro saat ditemui di Setu Babakan, Jakarta Selatan, Jumat.
Nantinya, dia mengatakan pihaknya membagi sejumlah petugas untuk menelusuri rumah pengolahan hingga proses pembuatan siomay yang terbuat dari ikan sapu-sapu.
Dalam pengawasan tersebut, pihaknya turut memberikan edukasi kepada pelaku usaha pengolahan maupun pedagang.
Diharapkan dengan penangkapan dan edukasi tersebut, perkembangbiakan ikan sapu-sapu dapat ditekan secara bertahap.
"Itulah fungsinya edukasi kepada masyarakat, agar masyarakat tahu bahaya dari mengonsumsi daging yang berasal dari ikan sapu-sapu," ujar Ridho.
Baca juga: Dinilai ganggu ekosistem, Pram tinjau penangkapan ikan sapu-sapu
Dia pun menekankan edukasi terkait bahaya mengonsumsi ikan sapu-sapu, terutama mengingat kandungan merkuri serta logam berat tinggi lainnya yang mengancam kesehatan manusia.
"Karena kalau logam berat atau merkuri dan sejenisnya itu, tidak langsung, ya, begitu kita makan langsung berdampak, tapi di berapa tahun kemudian, terjadi seperti penyakit kanker dan sebagainya," tutur Ridho.
Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Selatan menargetkan sebanyak lima ton ikan sapu-sapu dapat ditangkap dalam kegiatan pengendalian populasi di kawasan Setu Babakan, Jagakarsa, pada Jumat.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Setelah ditangkap, ikan sapu-sapu itu kemudian dimusnahkan dengan cara dibelah dan dikubur sebagai tindak lanjut arahan Pramono dalam menjaga ekosistem lingkungan.
Baca juga: Pemkot Jaksel targetkan 5 ton ikan sapu-sapu ditangkap di Setu Babakan
Baca juga: 6 bahaya mengonsumsi ikan sapu-sapu untuk kesehatan tubuh
"Karena kita setiap bulan ada pengawasan pangan terpadu," kata Kepala Sudin KPKP Jakarta Selatan Ridho Sosro saat ditemui di Setu Babakan, Jakarta Selatan, Jumat.
Nantinya, dia mengatakan pihaknya membagi sejumlah petugas untuk menelusuri rumah pengolahan hingga proses pembuatan siomay yang terbuat dari ikan sapu-sapu.
Dalam pengawasan tersebut, pihaknya turut memberikan edukasi kepada pelaku usaha pengolahan maupun pedagang.
Diharapkan dengan penangkapan dan edukasi tersebut, perkembangbiakan ikan sapu-sapu dapat ditekan secara bertahap.
"Itulah fungsinya edukasi kepada masyarakat, agar masyarakat tahu bahaya dari mengonsumsi daging yang berasal dari ikan sapu-sapu," ujar Ridho.
Baca juga: Dinilai ganggu ekosistem, Pram tinjau penangkapan ikan sapu-sapu
Dia pun menekankan edukasi terkait bahaya mengonsumsi ikan sapu-sapu, terutama mengingat kandungan merkuri serta logam berat tinggi lainnya yang mengancam kesehatan manusia.
"Karena kalau logam berat atau merkuri dan sejenisnya itu, tidak langsung, ya, begitu kita makan langsung berdampak, tapi di berapa tahun kemudian, terjadi seperti penyakit kanker dan sebagainya," tutur Ridho.
Sementara itu, Pemerintah Kota Jakarta Selatan menargetkan sebanyak lima ton ikan sapu-sapu dapat ditangkap dalam kegiatan pengendalian populasi di kawasan Setu Babakan, Jagakarsa, pada Jumat.
Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut instruksi Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Setelah ditangkap, ikan sapu-sapu itu kemudian dimusnahkan dengan cara dibelah dan dikubur sebagai tindak lanjut arahan Pramono dalam menjaga ekosistem lingkungan.
Baca juga: Pemkot Jaksel targetkan 5 ton ikan sapu-sapu ditangkap di Setu Babakan
Baca juga: 6 bahaya mengonsumsi ikan sapu-sapu untuk kesehatan tubuh




