EtIndonesia. Astronot misi Artemis II Amerika Serikat telah kembali ke Bumi setelah menyelesaikan penerbangan mengelilingi Bulan. Keempat astronot ini mencatat sejarah baru bagi umat manusia, namun gaji mereka ternyata tidak jauh berbeda dengan pekerja biasa, hal yang cukup mengejutkan publik.
Pada 10 April, pesawat ruang angkasa Orion yang menjalankan misi berawak Artemis II kembali ke Bumi dan mendarat di perairan dekat San Diego, California.
Perhatian dunia tertuju pada tiga astronot Amerika—Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch—serta satu astronot Kanada, Jeremy Hansen. Mereka terbang ke wilayah luar angkasa terjauh yang pernah dicapai manusia dalam sejarah, menciptakan pencapaian baru.
Namun setelah kembali ke Bumi, keempat astronot tersebut tidak menerima pendapatan tambahan apa pun—tidak ada bonus kinerja, lembur, maupun tunjangan risiko.
Menurut laporan majalah Fortune, gaji tahunan astronot Amerika hanya sekitar US$152.000, sementara astronot Kanada memiliki standar gaji yang serupa.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa untuk misi yang memperluas batas eksplorasi manusia, imbalan bagi para astronot justru terbilang biasa saja—lebih mendekati gaji pegawai kantor tingkat menengah, atau bahkan teknisi seperti tukang listrik dan teknisi HVAC, bukan seperti imbalan untuk perjalanan langka mengelilingi Bulan yang mungkin hanya terjadi sekali dalam satu abad.
Seorang juru bicara NASA pada tahun 2025 mengkonfirmasi kepada majalah Fortune bahwa astronot AS, seperti pegawai federal lainnya, mendapatkan fasilitas transportasi, akomodasi, dan makanan yang ditanggung oleh NASA. Selain itu, mereka juga menerima tunjangan harian sebesar US$5 untuk pengeluaran kecil.
Meski gajinya tidak tinggi, tetap ada ribuan orang yang bersedia menjalankan misi luar angkasa. NASA pada September tahun lalu mengumumkan daftar kandidat astronot untuk tahun 2025, di mana hanya 10 orang yang terpilih dari lebih dari 8.000 pelamar—tingkat penerimaan sekitar 0,125%.
Sumber : NTDTV.com





