MANADO, KOMPAS.TV - Kenaikan harga bahan baku plastik dalam beberapa bulan terakhir mulai berdampak langsung pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sejumlah pelaku usaha di berbagai sektor kini terpaksa mengurangi penggunaan plastik sebagai langkah efisiensi biaya produksi.
Lonjakan harga ini dipicu oleh meningkatnya biaya bahan baku berbasis petrokimia serta gangguan rantai pasok global. Akibatnya, harga plastik kemasan seperti kantong, wrap, dan wadah makanan mengalami kenaikan signifikan, bahkan mencapai 20 hingga 40 persen di tingkat distributor.
Bagi pelaku UMKM, kondisi ini menjadi tekanan baru di tengah upaya pemulihan ekonomi. Rahmat, pemilik usaha kuliner di Makassar, mengaku harus memutar strategi agar tidak menaikkan harga jual produknya.
“Kalau semua biaya dinaikkan ke konsumen, bisa kehilangan pelanggan. Jadi kami mulai kurangi penggunaan plastik, misalnya tidak lagi pakai double packing,” ujarnya, Jumat (17/4).
Langkah serupa juga dilakukan oleh pelaku usaha minuman dan retail kecil. Sebagian mulai beralih ke kemasan alternatif seperti kertas, daun, atau kemasan ramah lingkungan, meski diakui belum sepenuhnya lebih murah.
Ketua komunitas UMKM Sulawesi Selatan, Andi Fadli, mengatakan fenomena ini justru membuka peluang transformasi menuju praktik usaha yang lebih berkelanjutan. Namun, ia mengingatkan bahwa peralihan tersebut membutuhkan dukungan kebijakan dan insentif dari pemerintah.
“UMKM sebenarnya siap berubah, tapi perlu ada stimulus. Kemasan ramah lingkungan masih relatif mahal dan belum merata ketersediaannya,” jelasnya.
Di sisi lain, pengamat ekonomi menilai kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan sekali pakai. Selain menekan biaya dalam jangka panjang, langkah ini juga dinilai sejalan dengan isu lingkungan yang semakin mendapat perhatian global.
Pemerintah daerah sendiri mulai mendorong penggunaan kemasan non-plastik melalui berbagai program sosialisasi dan pembinaan UMKM. Beberapa daerah bahkan tengah mengkaji kebijakan pembatasan plastik sekali pakai untuk sektor usaha kecil.
Meski demikian, tantangan di lapangan masih cukup besar. Ketersediaan alternatif kemasan, daya beli konsumen, serta adaptasi pelaku usaha menjadi faktor penentu keberhasilan perubahan ini.
Dengan tekanan harga yang terus berlangsung, pelaku UMKM dituntut lebih adaptif dan inovatif dalam menjaga keberlangsungan usaha, sekaligus menjawab tuntutan pasar yang semakin peduli terhadap isu lingkungan.
Penulis : KompasTV-Makassar
Sumber : Kompas TV
- UMKM
- pelastik
- harga pelastik




