EtIndonesia. Sejak pemimpin Partai Komunis Tiongkok, Xi Jinping, berkuasa, pengawasan terhadap masyarakat semakin diperketat, sementara suara penentangan dari rakyat juga terus meningkat. Baru-baru ini, slogan anti-Xi kembali muncul di jalanan Tiongkok.
Slogan Anti-Xi Muncul Lagi di Jalanan Tiongkok, Video ViralBaru-baru ini, sebuah video beredar di media sosial luar negeri. Dalam rekaman tersebut terlihat tulisan berwarna biru di sebuah dinding yang berbunyi: “Xi Jinping mencari uang kotor, memotong tangan para pekerja migran di Nanjing…”
Terlihat pula beberapa pejalan kaki berhenti untuk melihat tulisan tersebut.
Pengguna internet yang mengunggah video mengatakan bahwa kejadian itu terjadi di Xi’an, Provinsi Shaanxi. Namun, tidak dijelaskan siapa yang menulis slogan tersebut, di jalan mana tepatnya di Xi’an, maupun waktu kejadian secara pasti.
Meski demikian, video tersebut tetap menyebar luas di internet dan memicu perbincangan hangat. Beberapa netizen berkomentar: “Sangat memuaskan!” dan “Semoga slogan anti-Xi dan anti-PKT memenuhi tembok di seluruh negeri.”
Media Inggris: Iran Diam-diam Beli Satelit Mata-mata dari Tiongkok, Menargetkan Pangkalan Militer ASPemerintah PKT selama ini membantah memberikan bantuan militer kepada Iran. Namun, laporan dari Financial Times pada 15 April menyebutkan bahwa berdasarkan dokumen militer Iran yang bocor, Garda Revolusi Iran pada akhir 2024 secara diam-diam membeli sebuah satelit mata-mata beresolusi tinggi buatan Tiongkok.
Satelit ini memungkinkan militer Iran, sejak pecahnya perang AS–Iran pada 28 Februari tahun ini, untuk memperoleh citra pangkalan militer AS di Timur Tengah, memantau serta menentukan lokasi target untuk serangan rudal dan drone.
Dokumen yang bocor menunjukkan bahwa satelit bernama “TEE-01B” tersebut dibuat dan diluncurkan oleh perusahaan Tiongkok Beijing Mumu Xingkong Technology (Earth Eye Co). Setelah diluncurkan ke luar angkasa dari Tiongkok pada akhir 2024, satelit tersebut kemudian diserahkan kepada pasukan kedirgantaraan Garda Revolusi Iran.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa militer Iran menggunakan satelit ini untuk memantau fasilitas utama militer AS, dengan mengacu pada daftar koordinat bertanda waktu, citra satelit, dan analisis orbit sebagai dasar untuk melancarkan serangan drone dan rudal terhadap target-target tersebut.
Catatan menunjukkan bahwa antara 13 hingga 15 Maret, satelit tersebut secara terus-menerus mengambil gambar Prince Sultan Air Base di Arab Saudi.
Presiden AS Donald Trump pada 14 April mengkonfirmasi bahwa lima pesawat pengisian bahan bakar milik Angkatan Udara AS di pangkalan tersebut mengalami kerusakan akibat serangan.
Selain satelit itu sendiri, sebagai bagian dari kesepakatan dengan pihak Tiongkok, Garda Revolusi Iran juga memperoleh akses untuk menggunakan stasiun bumi komersial yang dioperasikan oleh penyedia layanan kontrol satelit dan data yang berbasis di Beijing, Emposat. Jaringan perusahaan ini mencakup Asia, Amerika Latin, dan wilayah lainnya, memungkinkan Iran mengendalikan satelit dari jarak jauh dan menerima data gambar dari berbagai belahan dunia. (Hui)





