JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah anggapan bahwa gelar sarjana dapat membuka lebih banyak peluang kerja, kenyataan di lapangan tidak selalu berjalan demikian.
Bagi sebagian orang, perjalanan setelah lulus justru diwarnai penolakan berulang, bahkan tanpa kesempatan untuk sekadar mengikuti proses wawancara.
Hal itu dialami Furqon Fauzi (38), lulusan sastra Inggris yang harus menghadapi realitas pahit ketika puluhan lamaran kerja yang ia kirim tidak membuahkan hasil.
“Seingat saya ada sekitar 52 perusahaan yang saya lamar dan memasukkan CV. Namun tidak ada satu pun yang menerima saya. Jangankan menerima, dipanggil untuk interview saja tidak.” kata Furqon saat dihubungi, Rabu (15/4/2026).
Dari Gelar Sarjana ke Lapak Sederhana
Furqon adalah lulusan dari Universitas Islam Bandung, setelah lulus pada 2010, ia sempat bekerja sebagai sales di perusahaan otomotif lalu berpindah-pindah pekerjaan selama hampir satu dekade.
Namun sebelum itu, ia juga mencoba mencari pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
Ia melamar ke berbagai tempat, termasuk perusahaan penerbitan hingga lembaga internasional.
“Saya juga pernah mencoba apply ke kantor embassy, namun sayangnya tidak pernah berhasil.” ujarnya.
Baca juga: Saat Upah Tak Sejalan dengan Pendidikan, Sarjana Tinggalkan Jalur Karier Konvensional
Seiring waktu, ia mulai menyadari bahwa bekerja sesuai bidang bukanlah sesuatu yang mudah dicapai.
“Sejujurnya, saya tidak pernah berharap akan bisa mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kuliah saya," katanya.
Pandemi Mengubah Segalanya
Setelah hampir satu dekade bekerja di berbagai perusahaan, pandemi Covid-19 menjadi titik akhir perjalanan kariernya di dunia korporasi.
Ia termasuk dalam gelombang pekerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja.
Situasi saat itu membuat peluang kerja semakin sempit, tidak hanya bagi dirinya tetapi juga banyak orang lain.
“Karena pada saat itu Jangankan menerima karyawan baru, karyawan yang lama pun harus dikeluarkan.” ujarnya.