Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam strategi branding semakin berkembang pesat. Namun perusahaan diingatkan untuk tetap menjaga autentisitas.
IDXChannel - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam strategi branding semakin berkembang pesat. Namun perusahaan diingatkan untuk tetap menjaga autentisitas dari sisi kemanusiaan agar tidak kehilangan relevansi dengan konsumen.
Hal ini juga diperkuat melalui konsep dalam buku Marketing 7.0: A Guide for Thinking Marketeers in the Age of AI yang menekankan pentingnya adaptasi strategi pemasaran di tengah peran AI yang semakin dominan.
Dalam WOW Brand 2026, tema “Branding in the Age of AI” menyoroti pentingnya keseimbangan antara teknologi dan koneksi emosional. AI dinilai mampu membuat proses menjadi lebih cepat, presisi, dan terukur, tetapi juga menuntut brand untuk tetap menghadirkan interaksi yang autentik.
COO MCorp, Iwan Setiawan, menekankan bahwa tantangan utama brand saat ini adalah menjaga autentisitas di tengah banjir konten digital.
“Otak manusia modern sudah punya aggressive filtering. Begitu melihat sesuatu yang bernuansa iklan atau terlalu 'rapi', kita otomatis mengabaikannya. Merek yang mau menunjukkan apa adanya dirinya, lengkap dengan kekurangan dan kelemahannya, justru itulah yang paling sukses di media sosial,” ujar Iwan dalam pernyataannya, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Lebih lanjut, Iwan memaparkan bahwa meskipun AI sangat unggul dalam mengolah data, teknologi ini tetap memiliki batasan dalam menciptakan karakter merek yang unik.
“AI itu adalah sosok generalis, dia tahu segala hal tapi dia tidak bisa jadi spesialis karena dia tidak punya bias. Branding itu butuh bias, butuh keberanian mengambil posisi unik. Jika strategi branding hanya diserahkan pada AI, hasilnya akan sangat aman (safe), dan kita berakhir menjadi brand yang rata-rata,” tuturnya.
Sementara itu, Founder MCorp, Hermawan Kartajaya, menegaskan bahwa keputusan strategis tetap harus berada di tangan manusia.
“Sekarang semua orang bilang kalau tidak menggunakan AI akan kalah dari kompetitor, tetapi jangan sampai semuanya diserahkan pada AI. Keputusan tetap harus diambil oleh manusia,” tegasnya.
Hermawan menambahkan bahwa pelajaran utama dalam marketing saat ini kembali pada prinsip dasar PDB (Positioning, Differentiation, Branding).
“Dalam marketing, kita tidak harus menjadi yang terbaik, tetapi harus menjadi berbeda. AI bisa membantu mempercepat, tetapi positioning dan diferensiasi tetap harus datang dari cara berpikir manusia,” tuturnya.
Diskusi dalam forum ini menegaskan bahwa aspek kemanusiaan menjadi pembeda utama brand di tengah otomatisasi. Sementara itu, pendekatan berbasis data dan storytelling tetap diperlukan untuk memperkuat pengalaman konsumen dan memenangkan pasar.
Reporter: Nasywa Salsabila
(Febrina Ratna Iskana)





