SEMARANG, KOMPAS — Sejumlah daerah di Jawa Tengah menyiapkan lebih dari 123 juta liter air bersih untuk mencukupi kebutuhan masyarakat di musim kemarau. Selain mendistribusikan bantuan air bersih, pemanfaatan air bersih dari sumber-sumber lain, seperti dari tampungan air hujan atau pengolahan air laut, juga didorong.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, kemarau pada tahun 2026 diperkirakan lebih kering dan berdurasi lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Hal itu terjadi karena musim kemarau datang bersamaan dengan El Nino atau fenomena memanasnya suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Kehadiran El Nino membawa dampak bagi Indonesia, salah satunya mengurangi curah hujan yang berpotensi memicu kekeringan.
Untuk mengantisipasi dampak dari fenomena alam tersebut, sejumlah daerah di Jateng mulai melakukan persiapan. Salah satu yang sudah dilakukan adalah memetakan daerah-daerah yang secara historis rawan kekeringan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, daerah-daerah yang rawan kekeringan, antara lain Grobogan, Blora, Rembang, Sragen, Klaten, Wonogiri, dan Pemalang. Pada musim kemarau tahun 2019 dan 2023, daerah-daerah itu terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih.
“Karena ada beberapa daerah di wilayah itu yang posisinya cenderung berada di lokasi ketinggian. Jadi, sumber mata air diperkirakan tidak ada atau sulitnya sumber mata air,” kata Bergas saat dihubungi, Jumat (17/4/2026).
Dia menyatakan, masyarakat yang terdampak kekeringan dan memerlukan air bersih bisa mengajukan permohonan dropping (pendistribusian) air bersih ke pemerintah kabupaten/kota. Sebab, hampir seluruh kabupaten/kota telah menyiapkan air bersih yang siap didistribusikan.
Di Jateng, sebanyak 28 kabupaten/kota telah menyiapkan total 123.194.226 liter air bersih. Penyediaan air bersih paling banyak disiapkan Klaten sebanyak 57.692.308 liter, Boyolali sebanyak 13.400.000 liter, dan Kabupaten Semarang sebanyak 12.894.500 liter. Adapun daerah yang paling sedikit menyiapkan air bersih adalah Pemalang, yakni sekitar 65.000 liter.
Selain pemerintah kabupaten/kota yang bekerja sama dengan sejumlah pihak melalui program tanggung jawab sosial perusahaan, pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat juga akan turut membantu penyediaan air bersih. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi apabila persediaan air bersih dari kabupaten/kota masih belum mencukupi.
Meski telah menyediakan air bersih yang bakal didistribusikan ke masyarakat, pemerintah tetap mendorong pemanfaatan air bersih dari sumber-sumber lain.
Bergas menyebut, selama ini ada beberapa program yang dilakukan pemerintah di berbagai daerah, misalnya pembuatan sumur dalam dan sistem penyediaan air minum di daerah-daerah yang memiliki sumber-sumber air.
Di samping itu, masyarakat juga diimbau memanfaatkan air hujan yang ditampung selama musim penghujan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di musim kemarau.
Sebelumnya, Bergas menyebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah mendistribusikan tandon air dengan kapasitas 5.000 liter ke seluruh kabupaten/kota. Tandon-tandon itu diharapkan bisa dimanfaatkan warga untuk menampung air hujan.
Masyarakat, terutama di daerah-daerah yang menjadi lokasi percontohan program desalinasi atau pengolahan air laut menjadi air tawar juga disebut Bergas punya alternatif penyediaan air bersih lain. Air yang dihasilkan dari proses itu diharapkan bisa mencukupi kebutuhan masyarakat di musim kemarau.
“Upaya penyediaan sumber air bersih lain merupakan bagian dari upaya kita mengurangi ketergantungan masyarakat dengan program dropping air. Ke depan, daerah-daerah yang memiliki potensi sumber air bisa memenuhi kebutuhannya secara mandiri. Kemudian, yang memang kondisinya tidak memungkinkan atau tidak ada sumber air, bisa tetap kita bantu dengan dropping air bersih,” ucapnya.
Karena ada beberapa daerah di wilayah itu yang posisinya cenderung berada di lokasi ketinggian. Jadi, sumber mata air diperkirakan tidak ada atau sulitnya sumber mata air
Di Kota Semarang, persiapan menghadapi kemarau antara lain dilakukan dengan menyiapkan cadangan air bersih sebanyak 1 juta liter untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Berdasarkan pemetaan kawasan rawan bencana (KRB) yang dilakukan BPBD setempat, ada beberapa wilayah yang rawan kekeringan yaitu Kelurahan Rowosari di Kecamatan Tembalang, Kelurahan Wonosari di Kecamatan Ngaliyan, dan Kelurahan Cepoko di Kecamatan Gunungpati.
“Kondisi geografis yang sulit dijangkau jaringan air bersih menjadi kendala utama di wilayah-wilayah tersebut. Upaya pengeboran sumur dalam sebenarnya sudah dilakukan, tetapi tidak menghasilkan air bersih, melainkan gas. Sehingga, distribusi air bersih menjadi solusi utama,” ujar Kepala BPBD Kota Semarang Endro Pudyo Martantono.
Menurut Endro, kemarau diperkirakan bakal melanda Mei hingga September 2026. Kendati telah menyiapkan cadangan air bersih untuk didistribusikan, Endro tetap meminta masyarakat lebih bijak dalam menggunakan air.
Sementara itu, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyebut, antisipasi juga dilakukan untuk memastikan kebutuhan irigasi di lahan-lahan pertanian warga di musim kemarau terpenuhi. Hal itu dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian di Jateng.
Luthfi mengaku telah menginstruksikan pemerintah kabupaten/kota untuk mengecek kembali kondisi embung dan saluran irigasi di wilayahnya. “Saya ingin betul-betul memastikan, cek dan recheck embung yang ada. Embung merupakan salah satu tempat untuk memenuhi kebutuhan air baku maupun persawahan,” katanya.
Menurut Luthfi, sepanjang 2025-2025, sudah ada setidaknya 12 embung baru yang dibangun di Jateng. Jika masih belum dirasa cukup, dia meminta agar pemerintah kabupaten/kota yang memerlukan untuk mengajukan usulan pembangunan embung.
Di samping itu, Luthfi juga meminta agar embung-embung yang sudah ada dipastikan berfungsi secara optimal pada musim kemarau. Dia menyebut, pihaknya juga bakal bekerja sama dengan TNI untuk penyediaan air melalui program penyaluran air bersih melalui perpipaan dan pembuatan sumur dangkal.





