Penulis: Isnaini Diah Safitri
TVRINews, Tanjungpinang
Pulau Penyengat tidak hanya dikenal sebagai kawasan bersejarah, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner tradisional yang masih bertahan hingga kini. Salah satu yang paling populer adalah kue deram-deram, camilan khas yang dipercaya telah ada sejak masa Kerajaan Riau-Lingga.
Kue berwarna cokelat ini menjadi salah satu ikon kuliner Pulau Penyengat dan mudah ditemukan di sepanjang jalur wisata, mulai dari area pelabuhan hingga kawasan Masjid Raya Sultan Riau.
Salah satu penjual, Raja Agustina atau Tina, menyebut kue tersebut masih menjadi incaran wisatawan yang datang ke pulau tersebut.
“Mungkin di Penyengat ini pengunjung datang pada cari kue deram-deram. Karena dari pelabuhan sampai ke depan masjid itu rata-rata kedai semuanya jual deram-deram,” ujar Tina, Jumat 17 April 2026.
Meski tampil sederhana, proses pembuatan kue deram-deram membutuhkan ketelatenan. Bahan utama terdiri dari tepung beras, gula merah, dan air. Gula merah dicairkan lebih dulu, kemudian dicampur dengan tepung beras hingga merata sebelum dibentuk dan digoreng.
Seiring waktu, bentuk kue ini mengalami perubahan. Dahulu berukuran lebih besar dengan tiga lubang, kini dibuat lebih kecil dengan satu lubang di bagian tengah mengikuti selera pasar.
“Kue deram-deram ini sudah dari dulu. Kalau dulu itu besar, lubangnya ada tiga. Tapi sekarang jadinya kecil, terus lubangnya satu,” jelas Tina.
Kue ini dijual sebagai oleh-oleh dengan harga terjangkau, mulai dari Rp8.000 hingga Rp15.000 per kotak. Varian rasa juga mulai berkembang, termasuk rasa durian dengan harga sekitar Rp10.000 per kotak.
Selain deram-deram, Pulau Penyengat juga memiliki beragam kuliner tradisional lain seperti lakse, sagun, dan cakar ayam yang memperkaya pengalaman wisata kuliner di kawasan bersejarah tersebut.
Editor: Redaksi TVRINews





