Pemerintah Arab Saudi mulai menggarap sektor ekonomi kreatif di negaranya sehingga terbuka untuk bekerja sama dengan negara lain. Cakupannya pun beragam, mulai dari potensi sektor film, fashion, dan pengembangan talenta. Ekspansi ini menunjukkan bahwa negara itu berupaya mengembangkan sektor-sektor di luar minyak bumi.
Salah satu industri yang tengah digarap dengan sokongan dana besar adalah perfilman. Banyak hal berubah di Arab Saudi yang membuatnya makin terbuka terhadap modernitas.
Mengutip The Hollywood Reporter, setidaknya delapan tahun lalu belum ditemukan adanya bioskop di Arab Saudi. Kini, banyak perhelatan festival komedi, arena e-sport, bahkan Festival Film Internasional Laut Merah (Red Sea International Film Festival). Dengan suguhan karpet merah, festival tersebut didesain berkompetisi dengan Festival Film Cannes.
Meski serangan-serangan drone menyasar langsung ibu kota Arab Saudi, Riyadh, hingga kini tak terlalu berdampak pada kehidupan malam di sana. Bioskop-bioskop tetap buka dan penuh. Pergeseran budaya itu cukup melatarbelakangi alasan Arab Saudi menghabiskan miliaran dolar AS di negara lain.
Arab Saudi bersama Qatar dan Uni Emirat Arab disebut-sebut punya andil dalam upaya Paramount Skydance mengambil alih Warner Bros Discovery senilai 110 miliar dolar AS. Dari jumlah itu, setidaknya ada 24 miliar dolar AS yang disokong sovereign wealth fund (SWF) atau dana kekayaan negara oleh negara-negara Teluk, termasuk Dana Investasi Publik Arab Saudi (PIF), modal dari Otoritas Investasi Qatar dan Abu Dhabi’s L’imad Holding Co.
Masih dalam laporan yang sama, pengarsipan yang dilakukan Paramount Skydance dengan Komisi Bursa Efek tidak menjabarkan seberapa banyak kontribusi tiap pihak. Namun, seorang sumber yang erat kaitannya dengan investasi menyebut bahwa total investasi negara-negara Teluk ini sekitar 24 miliar dolar AS. PIF oleh Arab Saudi disebut berkontribusi 12 miliar dolar AS, sedangkan SWF Abu Dhabi dan Qatar masing-masing menyumbang sekitar 6 miliar dolar AS.
”Arab Saudi yang ada di balik kesepakatan Warner Bros merepresentasikan lebih dari sekadar investor internasional bertaruh secara finansial di Hollywood. Untuk Riyadh, kesepakatan itu menawarkan keluarga Kerajaan Arab Saudi kedekatan pada kekuatan media Amerika, termasuk ekosistem politiknya,” demikian tertulis dalam The Hollywood Reporter.
Terlepas motif apa pun di balik kontribusi Arab Saudi di dunia perfilman terbesar AS itu, langkah tersebut tetap menunjukkan perubahan besar dalam industri hiburannya. Hal itu sejalan pula dengan target pemerintah dalam mempromosikan budaya dan hiburan sesuai Visi 2030, seperti tertulis dalam laporan PricewaterhouseCoopers (PwC).
Pemerintah Arab Saudi berencana untuk menarik investor-investor lokal dan membangun kemitraan dengan perusahaan-perusahaan hiburan internasional. Pihaknya juga menargetkan kenaikan belanja rumah tangga pada sektor hiburan dari 2,9 persen menjadi 6 persen dan mengembangkan pasar hingga 30 miliar riyal Saudi (SAR). Nominal itu setara Rp 137,22 triliun dengan kurs Rp 4.574 per riyal.
Para pemain internasional mulai berpartisipasi mengembangkan industri hiburan di Arab Saudi. AMC Entertainment, misalnya, operator jaringan bioskop terbesar dunia AS, dan DIEC diproyeksikan mendongkrak perkembangan industri perfilman di kerajaan tersebut.
Pada April 2018, DIEC membuka bioskop pertamanya di King Abdullah Financial District. Rencana itu kemudian berkembang sehingga DIEC menargetkan membuka 50-100 bioskop lain di seluruh Arab Saudi pada 2030.
Sebagai pasar baru, tipe konten yang menarik bagi audiens di Arab Saudi masih akan dibentuk. Namun, CEO AMC Adam Aron memperkirakan, film-film yang diputar akan serupa dengan yang ditayangkan di Dubai, Uni Emirat Arab; atau Kuwait.
Sekitar sepertiga populasi Arab Saudi merupakan ekspatriat yang terpusat di Provinsi Riyadh (38 persen) dan Mekkah (42 persen). Negara tersebut merupakan rumah bagi sekitar 3 juta warga India sekaligus komunitas ekspatriat terbesar di kerajaan itu. Alhasil, konten-konten yang akan ditampilkan juga akan beragam dari film-film unggulan Hollywood alias blockbuster hingga Bollywood serta film regional dan lokal.
Dengan populasi Arab Saudi yang diproyeksikan tumbuh menjadi 39,5 juta orang pada 2030, kerajaan itu berpotensi menyerap hingga 2.600 layar. Arab Saudi butuh 370 bioskop berdasarkan rata-rata 7 layar per bioskop untuk mengakomodasi 2.600 layar.
Rasio kepadatan layar (screen density) Arab Saudi cukup ambisius untuk per 100.000 orang. Pada 2017, Italia mencatat 6,6 layar bioskop per 100.000 orang, diikuti Belanda (5,8) dan Jerman (5,6).
Nantinya, industri layar di Arab Saudi akan masuk dalam berbagai rupa di kota-kota utama yang mengadopsi sejumlah format, seperti 3D, IMAX, dan VIP. Harga tiket bioskop pun diperkirakan beragam, mulai dari 11-14 dolar AS atau Rp 188.562-Rp 239.988 hingga 40 dolar AS atau setara Rp 658.680 untuk pengalaman mewah. Nominal itu berpatokan pada Rp 17.142 per dolar AS.
”Orang-orang Arab Saudi diketahui kerap bepergian ke negara-negara tetangga, seperti UEA dan Bahrain, untuk mencari hiburan. Peningkatan pelayanan dan bioskop di dalam kerajaan itu akan membalikkan tren ini dan memasukkan aspek rekreasi, menstimulasi sektor leisure,” demikian tertulis dalam laporan PwC.
Arab Saudi turut melirik Indonesia untuk mengepakkan jejaring sektor ekonomi kreatif (ekraf)-nya. Pihaknya terbuka terhadap hubungan bilateral tersebut. Apalagi, Indonesia turut menyumbang pergerakan haji dan umrah yang besar tiap tahun sebagai salah satu negara berpenduduk Islam terbesar di dunia.
Dalam pertemuannya dengan Menteri Ekraf di Jakarta, Selasa (14/4/2026), Arab Saudi telah membentuk otoritas khusus untuk mendukung industri kreatif. Program Saudi 100 Brands, misalnya, menjadi akselerator bagi desainer lokal, inisiatif fashion berkelanjutan, termasuk ihram ramah lingkungan, seperti dikutip dari siaran pers Kementerian Ekraf.
Tidak hanya itu, Pemerintah Arab Saudi juga terbuka untuk menjalin hubungan bilateral dalam sektor perfilman. Dukungan dana pun ditawarkan. Begitu pula program pendidikan melalui institusi seni di salah satu negara Teluk tersebut.
”Pada sektor film, Arab Saudi tengah mengembangkan industri secara menyeluruh, dari produksi hingga distribusi, dengan berbagai dukungan dana. Kami membuka peluang kerja sama produksi film serta insentif hingga 60-65 persen,” tutur Menteri Kebudayaan Arab Saudi Pangeran Badr bin Abdullah bin Farhan Al Saud.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya meyakini bahwa ekraf dilandasi nilai yang kuat, khususnya kebudayaan dan inovasi. Hubungan yang telah terjalin antara Indonesia dan Arab Saudi selama ini dapat membuka peluang kerja sama strategis.
”Ekonomi kreatif bukan sekadar sektor pendukung, tetapi menjadi penggerak masa depan. Kami percaya bahwa perpaduan warisan budaya dan inovasi akan menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi kedua negara,” ucapnya.
Menanggapi potensi kerja sama ini, praktisi budaya, pariwisata, dan ekraf Harry Waluyo mengatakan, kerja sama antara Indonesia dan Arab Saudi tetap akan berorientasi pada bisnis. Aspek yang membuat Arab Saudi tertarik tentu karena kemampuan dan kreativitas para pelaku industri kreatif Indonesia yang dapat diadu.
”Kalau dari kreativitas, Indonesia bisa dikatakan sudah go international. Hanya, memang, kita enggak ada kanal khusus. Kalau ruang terbatas, tidak bisa eksplorasi,” katanya.
Dalam konteks film, Indonesia dapat bekerja sama dengan Arab Saudi untuk menggarap konten sekaligus menyiapkan platform atau kanal khusus. Tentu, platform itu dibentuk sesuai dengan segmentasi pasar yang jelas agar dapat saling menguntungkan kedua pihak.
Melihat kondisi geopolitik saat ini, hubungan bilateral atau kerja sama terjalin di antara dua negara dinilai lebih mudah dan prospektif dibandingkan multilateral. Sebab, kedua negara dapat saling menggunakan mata uang masing-masing, tidak melulu berpatokan pada mata uang tertentu. Alhasil, tidak ada yang dirugikan dari kerja sama semacam ini.
Kemenekraf perlu berkolaborasi dengan memperkuat konten dan daya saing juga. Aset-aset yang tak berwujud (intangible) perlu mendapat perhatian jangka panjang. Ekraf membahas ekspor yang bisa dengan mudah langsung dibelanjakan konsumen, tanpa harus melibatkan banyak pihak ketiga untuk berinteraksi.
”Aset-aset yang bersifat intangible harus mendapat perhatian jangka panjang. Pelaku bisnis juga ingin tahu terobosan pemerintah seperti apa. Jangan terfragmentasi dengan kebijakan atau visi-misi kelembagaan saja, tapi harus integral, sehingga Indonesia dikenalnya satu, solid, dan bangun suasana kondusif,” tutur Harry.
Negara Teluk seperti Arab Saudi yang selama ini tertutup perlahan menunjukkan ”taringnya” dengan berinvestasi dan ragam skema perencanaannya dalam sektor ekraf. Indonesia perlu memanfaatkan celah ini untuk unjuk gigi di panggung dunia, apalagi dengan tawaran-tawaran kerja sama yang menggiurkan. Keberpihakan pada pelaku industri kreatif dalam negeri dapat ditunjukkan dengan membawa mereka ke panggung yang lebih majemuk di tingkat global.





