Teheran: Iran membuka kembali Selat Hormuz secara penuh untuk sementara waktu pada Jumat kemarin, menyusul kesepakatan gencatan senjata di Lebanon.
Namunm Iran memperingatkan bahwa jalur strategis tersebut dapat kembali ditutup jika blokade laut Amerika Serikat (AS) terhadap pelabuhan Iran terus berlanjut.
Dilansir dari AsiaOne, Sabtu, 18 April 2026, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa selat tersebut dibuka untuk semua kapal komersial selama masa gencatan senjata 10 hari yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon.
Selat Hormuz merupakan jalur sempit yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasar energi global. Ketidakpastian di Lapangan Meski demikian, situasi di lapangan menunjukkan ketidakpastian tinggi. Sejumlah kapal dilaporkan mencoba melintasi selat, namun kemudian berbalik arah tanpa penjelasan yang jelas.
Data pelayaran menunjukkan sekitar 20 kapal, termasuk kapal kontainer, tanker, dan kapal kargo, bergerak menuju selat pada Jumat malam, namun sebagian besar tidak melanjutkan perjalanan.
Iran menyatakan bahwa seluruh kapal harus berkoordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), berbeda dengan kondisi sebelum konflik.
Selain itu, kapal militer serta kapal yang terkait dengan AS dan Israel tetap tidak diizinkan melintas. Blokade AS dan Respons Iran Presiden AS Donald Trump menyambut pembukaan tersebut sebagai “hari besar bagi dunia,” namun menegaskan bahwa blokade terhadap kapal yang menuju pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan penuh.
Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Teheran. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan bahwa Selat Hormuz “tidak akan tetap terbuka” jika blokade AS terus berlangsung.
Ia juga menuduh Trump menyampaikan sejumlah klaim yang tidak akurat terkait proses negosiasi. Isu Nuklir dan Prospek Perundingan Selain isu pelayaran, perbedaan terkait program nuklir Iran masih menjadi hambatan utama dalam perundingan.
Trump menyatakan bahwa AS berencana menghapus cadangan uranium yang diperkaya milik Iran, sementara Teheran menegaskan bahwa material tersebut tidak akan dipindahkan.
Seorang pejabat senior Iran menyebut bahwa kedua pihak berharap dapat mencapai kesepakatan awal dalam beberapa hari ke depan untuk memperpanjang gencatan senjata, yang akan berakhir pekan depan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memberi ruang bagi negosiasi lanjutan terkait pencabutan sanksi dan kompensasi atas kerusakan akibat perang.
Baca juga: AS Dinilai Gagal Capai Target Utama di Iran, Sebut Klaim Kemenangan 'Naif'




