Inggris dan Prancis Akan Pimpin Misi Internasional Amankan Selat Hormuz

suarasurabaya.net
10 jam lalu
Cover Berita

Inggris dan Prancis akan memimpin misi militer internasional untuk memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz segera setelah kondisinya memungkinkan, kata Keir Starmer Perdana Menteri Inggris pada Jumat (17/4/2026).

Pernyataan itu disampaikan setelah Starmer mengikuti KTT internasional yang diselenggarakan Prancis untuk keamanan maritim di Selat Hormuz.

“Saya dapat memastikan bahwa, bersama dengan Prancis, Inggris akan memimpin misi multinasional untuk melindungi kebebasan navigasi segera setelah kondisi memungkinkan,” kata Starmer kepada wartawan setelah KTT yang diikuti perwakilan 49 negara tersebut.

Ia menegaskan bahwa misi pertahanan tersebut sepenuhnya bersifat damai guna menjamin keamanan pelayaran komersial dan mendukung pembersihan ranjau.

Lebih dari belasan negara telah menyatakan kesediaan mereka untuk mengirim peralatan militer ke Selat Hormuz setelah gencatan senjata berkelanjutan antara Iran dan AS disepakati, kata Starmer.

Ia mengundang semua pihak yang bersedia untuk bergabung dalam misi tersebut.

Starmer juga mengumumkan pertemuan perwakilan kementerian pertahanan negara-negara yang berpartisipasi dalam misi tersebut, yang dijadwalkan akan berlangsung minggu depan di London.

“Selat itu harus segera dibuka kembali, tanpa pungutan dan tanpa pembatasan,” ujar Starmer.

Pada 13 April, Angkatan Laut AS mulai memblokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Washington membebaskan kapal-kapal selain Iran untuk melintasi Selat Hormuz, selama mereka tidak membayar pungutan kepada Teheran.

Otoritas Iran belum mengumumkan pemberlakuan pungutan, tetapi telah membahas rencana tersebut.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan terhadap di Iran, hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil.

Iran menanggapi dengan menyerang wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Banyak negara di kawasan ini bahkan menutup sebagian atau seluruh wilayah udaranya, di tengah risiko serangan rudal dan pesawat nirawak.(ant/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kendaraan Listrik Kini Tak Bebas Pajak, Pemprov DKI Jakarta Siapkan Insentif
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Aturan WFH dalam Transformasi Budaya Kerja Nasional
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Penampilan Evan Dimas Bikin Warganet Semakin Pangling, sampai Bilang Begini soal Eks Andalan Timnas Indonesia itu
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Netanyahu Kaget dan Khawatir Mendengar Kebijakan Trump soal Lebanon
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Diadang Rekor Ganas Persipura, PSIS Tetap Optimistis meski Nasibnya Terancam Tenggelam
• 15 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.