Penulis: Fityan
TVRINews – Moscow
Moskow Sebut Keterlibatan Eropa Picu Eskalasi Militer Global
Ketegangan di kawasan Eropa memasuki babak baru Ketika, Kremlin secara resmi mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara Barat setelah Ukraina melancarkan serangkaian serangan pesawat nirawak (drone) jarak jauh yang melumpuhkan infrastruktur energi vital Rusia jumat 17 April 2026.
Moskow menuding dukungan finansial dan teknis dari negara-negara Eropa dalam produksi drone Ukraina telah mengubah benua tersebut menjadi "halaman belakang strategis" bagi Kyiv.
Peringatan Konsekuensi Tak Terduga
Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataan resminya, menegaskan bahwa keputusan Eropa untuk mendanai kapabilitas serangan jauh Ukraina adalah langkah disengaja menuju eskalasi militer.
"Kami menganggap keputusan ini sebagai transformasi bertahap negara-negara tersebut menjadi pendukung strategis Ukraina," tulis pernyataan resmi tersebut.
Rusia memperingatkan adanya "konsekuensi yang tidak terprediksi" dan mengklaim bahwa para pemimpin Eropa kian menyeret negara mereka ke dalam pusaran perang.
Dmitry Medvedev, mantan Presiden Rusia yang kini menjabat sebagai Wakil Kepala Dewan Keamanan Nasional, bahkan mempertegas ancaman tersebut dengan merilis daftar alamat perusahaan pertahanan Eropa yang menjalin kerja sama dengan Ukraina. Medvedev menyebut daftar tersebut sebagai "target potensial bagi angkatan bersenjata Rusia."
Dampak Ekonomi: Hilangnya Keuntungan Minyak
Serangan Ukraina tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menghantam jantung ekonomi Rusia.
Laporan Al Jazeera mengungkapkan bahwa Rusia kehilangan sekitar 40 persen dari potensi keuntungan mendadak (windfall profit) akibat lumpuhnya kemampuan ekspor minyak setidaknya 2 juta barel per hari.
Meskipun harga minyak global melonjak, infrastruktur Rusia mulai dari terminal ekspor di Laut Baltik hingga kilang di pedalaman mengalami kerusakan parah.
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa pelabuhan Primorsk kehilangan 40 persen kapasitas penyimpanannya, sementara pelabuhan Ust-Luga kehilangan 30 persen setelah dihantam serangan beruntun sejak akhir Maret lalu.
"Hari ini, serangan jauh kami bukan lagi sebuah sensasi," ujar Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, merujuk pada rutinitas operasional militer Ukraina yang kini mampu menjangkau target hingga 1.200 kilometer dari perbatasan.
Aliansi Pertahanan dan Kemandirian Kyiv
Di sisi lain, dukungan Eropa terus mengalir. Jerman baru saja menyepakati investasi sebesar 300 juta euro untuk kapabilitas serangan jarak jauh Ukraina.
Langkah serupa diikuti oleh Norwegia, Belanda, dan Belgia dengan total komitmen mencapai ratusan juta euro yang difokuskan pada teknologi drone.
Namun, yang lebih mengkhawatirkan bagi Moskow adalah kemandirian industri pertahanan Kyiv. Mantan Menteri Pertahanan Ukraina, Rustem Umerov, menyatakan bahwa kapasitas industri pertahanan domestik telah meningkat lebih dari 50 kali lipat sejak awal invasi.
Institute for the Study of War (ISW) menilai Rusia saat ini kesulitan melindungi wilayahnya yang luas dari serangan masif drone berbiaya rendah. "Hanya kerugian finansial yang signifikan yang akan memaksa Rusia mempertimbangkan skenario untuk menghentikan perang ini," pungkas Zelenskyy.
Editor: Redaktur TVRINews





