Penulis: Ricka Wulandari
TVRINews, Tanjungpinang
Kenaikan harga plastik kemasan dalam beberapa bulan terakhir kian memberatkan pelaku usaha kecil di Tanjungpinang. Lonjakan biaya ini memaksa pedagang menekan keuntungan karena enggan menaikkan harga jual demi menjaga daya beli dan loyalitas pelanggan.
Salah satu pedagang yang terdampak adalah Yanti, penjual makanan bayi. Ia mengaku kenaikan harga plastik sudah terasa sejak beberapa bulan lalu, namun belakangan meningkat tajam dan membebani biaya operasional usahanya.
“Sebenarnya sudah dari beberapa bulan lalu ada kenaikan, cuma belum terlalu tinggi. Sekarang makin tinggi lagi. Saya pakai plastik jenis PP atau premium, kenaikannya tinggi sekali. Dulu masih di kisaran Rp40 ribuan, sekarang sudah hampir Rp60 ribu,” ujar Yanti.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, biaya produksi meningkat, namun di sisi lain harga jual sulit dinaikkan karena mempertimbangkan kemampuan konsumen.
“Mau dinaikkan juga susah, kasihan yang beli. Jadi harga masih dipertahankan, tapi keuntungannya pasti turun dari biasanya,” tambahnya.
Di pasaran, harga plastik jenis polypropylene (PP) yang dikenal sebagai plastik premium tercatat naik signifikan, dari sekitar Rp40 ribu menjadi hampir Rp60 ribu per pak. Kenaikan ini berdampak langsung pada pelaku usaha mikro yang bergantung pada kemasan plastik untuk aktivitas penjualan sehari-hari.
Para pedagang berharap ada stabilisasi harga atau solusi dari pihak terkait agar usaha kecil tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Editor: Redaktur TVRINews




