ARAHAN Presiden Prabowo Subianto untuk membangun jaringan kereta api (KA) di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi bukan sekadar gagasan transportasi.
Ini adalah pernyataan strategis tentang arah pembangunan Indonesia ke depan: memperkuat konektivitas, menurunkan biaya logistik, dan mendorong pemerataan wilayah.
Dalam konteks negara kepulauan dengan disparitas wilayah yang tinggi, pembangunan KA lintas pulau menjadi simbol transformasi struktural yang tidak bisa lagi ditunda. Namun, gagasan besar selalu membutuhkan pembacaan historis.
Indonesia bukan negara tanpa pengalaman dalam membangun sistem transportasi. Pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, fondasi perencanaan transportasi nasional dibangun dengan relatif kuat.
Dokumen seperti Sistem Transportasi Nasional (Sistranas), Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS), hingga berbagai masterplan sektoral disusun dengan pendekatan teknokratis.
Namun, tantangan utama era ini adalah lambatnya implementasi. Banyak rencana besar berhenti pada dokumen.
Baca juga: Air Susu Dibalas Air Tuba di Pelayanan Publik
Era Presiden Joko Widodo membawa pendekatan berbeda. Fokus tidak lagi pada perencanaan, tetapi pada eksekusi.
Proyek-proyek strategis seperti LRT Palembang, MRT Jakarta, hingga Kereta Cepat Jakarta–Bandung menjadi bukti bahwa Indonesia mampu membangun infrastruktur transportasi modern dalam waktu relatif cepat.
Namun, pendekatan ini juga menyisakan catatan: tidak semua proyek terintegrasi secara sistemik dalam kerangka transportasi nasional.
Ada kecenderungan proyek berjalan parsial, tidak selalu terhubung dengan kebutuhan jaringan secara menyeluruh.
Kini, di era Prabowo, tantangan yang muncul adalah bagaimana menggabungkan dua kekuatan tersebut: ketajaman perencanaan ala SBY dan kecepatan eksekusi ala Jokowi.
Arahan pembangunan KA di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi harus dibaca sebagai momentum untuk memperbaiki ketimpangan struktural dalam sistem transportasi nasional, khususnya dalam konteks angkutan umum berbasis rel.
Jika dibandingkan dengan negara ASEAN, posisi Indonesia masih tertinggal dalam hal densitas dan konektivitas jaringan KA. Negara seperti Thailand dan Vietnam telah memiliki jaringan rel yang lebih terhubung antar kota utama.
Malaysia bahkan sudah mengembangkan integrasi antara rel, pelabuhan, dan kawasan industri. Sementara itu, Indonesia masih menghadapi fragmentasi jaringan, terutama di luar Pulau Jawa.
Ketertinggalan ini menjadi semakin kontras jika dibandingkan dengan Jepang dan China.





