REPUBLIKA.CO.ID, KUNINGAN -- Hama tikus dilaporkan menyerang tanaman padi di Kabupaten Kuningan. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan pun bergerak cepat merespons ancaman serangan hama itu yang berpotensi menekan produksi padi.
Respon cepat dilakukan melalui Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) di wilayah Kelompok Tani Tunas Mandiri 1, Desa Bakom, Kecamatan Darma. Sebanyak 15 hektare lahan sawah di wilayah itu berhasil ditangani untuk mencegah kerusakan lebih luas.
Baca Juga
Panen Raya Padi Meluas, Kementan Pastikan Stok Pangan Aman
Ledakan di Lapangan Padel Gunung Putri Rusak Bangunan Sekolah
Direktur INDEF: Ketahanan Pangan dan Energi Jadi Kunci Keberlanjutan Program MBG
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, M.Si., bersama tim Brigade Proteksi Tanaman, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta petani setempat. “Serangan tikus merupakan ancaman nyata bagi produksi pangan. Pengendalian tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, tetapi harus serentak dalam satu hamparan agar efektif menekan populasi,” ujar Wahyu, Kamis (16/4/2026). Ia menegaskan, langkah cepat tersebut merupakan bentuk respons langsung pemerintah daerah terhadap laporan petani di lapangan. Apalagi, tikus merupakan salah satu ancaman utama bagi tanaman padi karena memiliki kemampuan reproduksi tinggi dan adaptif terhadap lingkungan. .rec-desc {padding: 7px !important;} Selain itu, tikus juga menyerang tanaman secara sistematis, sejak fase persemaian hingga menjelang panen. Dalam kondisi populasi tinggi, serangan tikus dapat menyebabkan kehilangan hasil signifikan bahkan puso. “Setiap aduan yang masuk langsung kami tindak lanjuti. Tim turun untuk identifikasi dan aksi pengendalian. Ini bagian dari upaya menjaga produksi tetap aman,” tegas Wahyu. Selain melakukan aksi teknis pengendalian, Diskatan juga memberikan edukasi kepada petani mengenai karakteristik hama tikus, pola serangan, serta strategi pengendalian terpadu yang efektif dan ramah lingkungan. Petani didorong untuk melakukan pengendalian secara kolektif, mulai dari sanitasi lahan, pengemposan sarang, hingga penggunaan sarana pengendalian secara tepat. Diskatan juga menyalurkan bantuan rodentisida untuk mendukung pengendalian serentak di lahan terdampak. Dukungan itu diharapkan mampu menekan populasi tikus secara signifikan dan mencegah meluasnya serangan. Wahyu menekankan, keberhasilan pengendalian sangat ditentukan oleh kekompakan petani dalam satu kawasan. “Kalau dilakukan serempak, siklus hidup tikus bisa diputus. Ini kunci utama keberhasilan pengendalian,” kata dia.