KOMPAS.com – Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) melakukan benchmarking ke Pusat Pengembangan Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPPOMN) Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Hal itu dilakukan sebagai langkah strategis untuk memperkuat standardisasi laboratorium pengujian halal nasional, sekaligus mengembangkan jejaring layanan di berbagai daerah.
Dalam kunjungan kerja tersebut, hadir Sekretaris Utama (Sestama) BPJPH Muhammad Aqil Irham, Deputi Bidang Pengawasan dan Pembinaan Jaminan Produk Halal Chuzaemi Abidin, Direktur Pengawasan JPH Budi Setyo Hartoto, Kepala Laboratorium Halal BPJPH Giri Cahyono, serta jajaran BPJPH lainnya. Rombongan diterima oleh Kepala PPPOMN Mimin Jiwo Winanti beserta tim.
Baca juga: BPJPH: Sertifikat Halal Perkuat Daya Saing Industri Tekstil Nasional
Aqil mengatakan bahwa benchmarking itu merupakan bagian dari upaya penguatan ekosistem layanan halal nasional, khususnya melalui pengembangan laboratorium yang terstandarisasi, andal, dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat serta pelaku usaha.
“Benchmarking menjadi langkah penting untuk memperkuat kapasitas laboratorium halal nasional melalui pembelajaran praktik terbaik, standardisasi metode uji, serta peningkatan kualitas layanan sertifikasi halal,” ujar dia dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Sabtu (18/4/2026).
Menurutnya, laboratorium yang kuat menjadi fondasi utama dalam menghadirkan layanan sertifikasi halal yang kredibel, cepat, dan tepercaya.
Dalam pertemuan tersebut, BPJPH juga menggali pengalaman BPOM terkait tata kelola laboratorium nasional, pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM), serta penguatan jejaring laboratorium di daerah sebagai referensi dalam membangun sistem laboratorium halal yang terintegrasi.
Baca juga: BPJPH Dorong Industri Besar Bina UMKM agar Produk Halal Tembus Pasar Lebih Luas
Chuzaemi menambahkan, salah satu poin strategis yang menjadi perhatian adalah penetapan marker peptide porcine sebagai acuan nasional dalam identifikasi kandungan babi pada produk.
“Penetapan marker peptide porcine penting agar seluruh laboratorium memiliki standar yang sama. Dengan demikian, hasil pengujian menjadi lebih konsisten, valid, dan memberikan kepastian dalam proses sertifikasi halal,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, kedua pihak juga membahas aspek teknis pengujian kandungan porcine sebagai parameter penting dalam penetapan status kehalalan produk, termasuk pentingnya harmonisasi metode pengujian antar-laboratorium.
Baca juga: BPJPH–LPS Perkuat Sinergi Pemutakhiran Laboratorium Halal Nasional
Bagi BPJPH, penguatan kapasitas laboratorium merupakan kebutuhan yang akan dilakukan secara konsisten melalui peningkatan kompetensi SDM, pengembangan metode uji, serta perluasan jejaring laboratorium halal di berbagai daerah.
Kegiatan benchmarking itu menjadi bagian dari upaya BPJPH dalam memperkuat standardisasi metode uji, meningkatkan kapasitas SDM, serta mengembangkan jejaring laboratorium halal di daerah. Langkah ini diharapkan dapat mendukung penyediaan layanan pengujian halal yang lebih konsisten dan terukur dalam proses sertifikasi halal.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




