Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), memberikan klarifikasi tegas terkait potongan video pidatonya di Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berujung pada tudingan penistaan agama. Ia memastikan bahwa tidak ada doktrin agama mana pun yang menghalalkan kekerasan.
"Saya membantah pemahaman mereka yang salah itu. Saya bilang tidak ada ajaran Islam atau Kristen yang mengajarkan membunuh orang itu masuk surga," tegas JK di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).
JK menjelaskan bahwa kalimat tersebut dilontarkan saat dirinya sedang menceritakan pengalaman meredam konflik berdarah di Poso dan Ambon puluhan tahun silam. Narasi keras itu murni digunakan sebagai fakta sosiologis dan strategi di lapangan untuk menyadarkan pihak-pihak yang sedang bertikai.
"Saya di masjid itu menceritakan fakta sosiologis saat perang terjadi. Saya menggunakan kata itu untuk menyadarkan mereka, 'Kalian semua masuk neraka kalau membunuh saudara sendiri!' Jadi itu strategi saya untuk menghentikan perang, bukan penistaan," beber JK.
Lebih lanjut, JK mengingatkan bahwa agama sangat mudah dijadikan alasan konflik jika oknum-oknum di lapangan salah menafsirkan ajaran dan meyakini bahwa membunuh demi agama adalah jalan pintas menuju surga.
"Kenapa agama gampang jadi alasan konflik? Karena kedua belah pihak, baik Islam maupun Kristen di tempat itu, bukan Islam keseluruhan ya, tapi orang di tempat konflik itu, berpendapat kalau mati membela agama itu masuk surga. Orang Islam bilang Syahid, Kristen bilang Martir," pungkasnya meluruskan konteks.
Polemik ini bermula dari pelaporan sejumlah kelompok masyarakat ke Polda Metro Jaya terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Jusuf Kalla.
Pelaporan ini dipicu oleh beredarnya potongan video ceramah JK di Masjid Kampus UGM pada 5 Maret 2026 yang tidak utuh. Pihak pelapor menilai pernyataan JK terkesan menyamakan doktrin kekerasan di dalam agama.





