Terapi Sel Punca untuk Pengapuran Sendi Tingkatkan Kualitas Hidup Pasien

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Terapi sel punca atau stem cell telah menjadi pendekatan mutakhir dalam penanganan penyakit degeneratif, termasuk pengapuran sendi atau osteoartritis. Terapi ini dinilai tidak sekadar meredakan gejala penyakit tetapi juga membantu proses regenerasi jaringan sehingga kualitas hidup pasien bisa terjaga.

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi, Yanuarso, menuturkan, osteoartritis merupakan salah satu penyakit yang biasa terjadi seiring dengan terjadinya proses penuaan. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa nyeri dan penurunan fungsi sendi.

Selama ini, pengobatan osteoartritis atau yang dikenal sebagai pengapuran sendi dilakukan untuk mengatasi gejala yang muncul. Pengobatan konvensional yang diberikan seperti obat antiinflamasi dan analgesik lebih berfokus mengurangi rasa nyeri. Namun, obat tersebut tidak dapat memperbaiki kondisi jaringan sendi secara utuh.

Baca JugaSel Punca Hambat Proses Penuaan
Baca JugaSel Punca Dikembangkan

“Pengobatan dengan stem cell itu bisa sembuh secara alami dan lebih cepat. Namun memang tetap membutuhkan tindakan medis,” ujarnya di sela-sela acara peresmian StemCell Clinic Prodia di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Osteoartritis atau pengapuran sendi merupakan kondisi radang sendi yang ditandai dengan kerusakan atau penipisan tulang rawan (kartilago). Tulang rawan berfungsi sebagai bantalan pada ujung tulang.

Pengobatan dengan stem cell itu bisa sembuh secara alami dan lebih cepat.

Kondisi pengapuran sendi dapat menyebabkan gesekan antartulang sehingga menimbulkan keluhan berupa nyeri sendiri, kekakuan sendi terutama saat istirahat dan bangun tidur, serta pembengkakan. Gangguan ini umumnya terjadi pada sendi yang menopang tubuh, seperti lutut, pinggul, tangan, dan tulang belakang.

Menurut Yanuarso, terapi dengan sel punca lebih unggul untuk diberikan pada usia lanjut karena minim efek samping jika dibandingkan dengan pemberian obat-obatan. Penggunaan obat jangka panjang dapat berisiko menimbulkan gangguan ginjal ataupun lambung.

Sementara terapi sel punca tidak menimbulkan efek sistemik seperti obat-obatan. Reaksi yang muncul umumnya bersifat lokal dan sementara. Di lain sisi, terapi sel punca dapat memberikan efek yang lebih cepat dan alami dalam proses pemulihan.

Terapi lain

Yanuarso menyampaikan, terapi sel punca untuk layanan ortopedi dan traumatologi telah diatur pedoman penyelenggaraan pelayanan terapi sel punca di bidang ortopedi dan traumatologi. Pedoman itu diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1359 Tahun 2024.

Dalam aturan tersebut terdapat 15 jenis gangguan terkait ortopedi dan traumatologi yang dinyatakan bisa menggunakan sel punca sebagai terapi pelayanan di masyarakat. Selain terapi osteoartritis, terapi sel punca juga bisa diberikan untuk terapi lesi osteokondral atau cedera tulang rawan, terapi defek tulang kritis, terapi medulla spinalis atau terapi cedera saraf tulang belakang, cedera meniskus atau tulang rawan pada lutut, serta terapi osteoporosis.

Baca JugaSepotong Harapan dari Sel Punca
Baca JugaPenyakit Apa Saja yang Bisa Diobati dengan Sel Punca?

Yanuarso menyebutkan, terapi sel punca akan lebih optimal jika diberikan sejak tahap awal penyakit. Pada stadium awal osteoartritis, misalnya, sel punca bisa mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut. Kualitas hidup pasien pun bisa terjaga dengan baik.

Pada dasarnya, sel punca yang diberikan bisa berasal dari sel punca diri sendiri yang disebut sel punca autologus maupun sel punca dari orang lain yang disebut sel punca alogenik. Keduanya dapat digunakan. Namun, terapi yang diberikan pada usia lanjut lebih disarankan dengan sel punca alogenik.

“Sel punca alogenik umumnya diambil dari sel pada tali pusat. Kenapa dipilih tali pusat? Karena kualitasnya biasanya masih bagus. Dibandingkan dengan sel dari diri sendiri, khususnya pada lansia, biasanya kualitasnya sudah menurun,” kata Yanuarso.

Dalam melakukan terapi sel punca, prosedur yang harus dilewati cukup ketat. Pasien harus dianalisis secara menyeluruh untuk memastikan keamanan dan efektivitas terapi. Terapi sel punca diberikan melalui injeksi pada sendi. Prosedur ini relatif lebih sederhana dibandingkan operasi besar.

Terapi ini diberikan secara berkelanjutan. Terapi sel punca bertujuan untuk memperlambat kerusakan, bukan menghentikan penuaan sepenuhnya. “Seperti perawatan kulit, perlu booster karena proses penuaan terus berjalan,” ucap Yanuarso.

Terapi sel punca tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Fasilitas pelayanan harus memenuhi standar tertentu. Klinik dan rumah sakit juga wajib memiliki peralatan dan sumber daya manusia yang mumpuni.

Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty menyampaikan, saat ini layanan klinik stem cell bisa diakses di klinik Prodia, khususnya di Prodia Senior Health Centre (PSHC) di Jakarta Selatan. Klinik stem cell ini telah didukung dengan tenaga medis profesional.

“Layanan yang diberikan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Kita tahu terapi pengobatan regeneratif berbasis sel punca ini merupakan bagian dari precision medicine (pengobatan presisi) dan future medicine (pengobatan masa depan),” ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Kembali Mengamuk, Pesta Pora Babak Baru Dimulai
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
ADMR Tebar Dividen Tunai USD120 Juta, 44 Persen dari Laba Bersih
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
PLN Targetkan 574 Proyek Prioritas Tetap Jalan Meski Hadapi Ketidakpastian
• 11 jam lalukatadata.co.id
thumb
Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang tutup usia di umur 54 tahun
• 10 jam laluantaranews.com
thumb
Pramono Minta BUMD Daerah Berani Ekspansi Global: Ayo Persiapkan Diri, Bertarung Keluar
• 10 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.