Waktu masih belum menyentuh pukul 10 pagi. Antrean pencari kerja sudah mengular hingga membentuk huruf U di depan Gedung Smesco, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Antrean pencari kerja ini terjadi pada hari kedua bursa kerja Mega Career Expo 2026 yang diadakan Jobstreet by Seek. Sehari sebelumnya antrean juga tidak kalah panjang. Kemarin pagi antreannya juga panjang seperti ini,” ujar seorang panitia lapangan yang bertugas mengatur barisan pencari kerja sebelum pintu dibuka pukul 10.00.
Di antara ratusan pencari kerja tersebut terdapat Anindra (33) yang sudah antre sejak sekitar pukul 09.00. Warga Jatibening, Bekasi, Jawa Barat, ini kembali mencari peruntungan di bursa kerja. Hal ini dilakukan Anindra setelah kontrak kerjanya di perusahaan sebelumnya berakhir pada awal April lalu.
”Saya mencari lowongan analisis data, seperti pekerjaan yang saya lakukan selama 2,5 tahun di kantor sebelumnya,” ujarnya. Anindra yang merupakan lulusan S-1 manajemen sistem informasi di salah satu kampus swasta terkenal di Jakarta ini mengaku bursa kerja kali ini merupakan usahanya yang ke-11 dalam mencari pekerjaan, baik secara daring maupun luring.
”Sebenarnya sudah ada beberapa yang menawari pekerjaan, tetapi saya belum sreg,” ucap Anindra menutup pembicaraan.
Setiap tahun, sekitar 3,5 juta pencari kerja baru bermunculan
Padahal setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mampu menyerap sekitar 200.000 hingga 400.000 tenaga kerja.
Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5 persen, total tenaga kerja yang terserap maksimal hanya sekitar 2 juta orang
Sehingga masih ada sekitar 1,5 juta pencari kerja yang tidak terserap setiap tahun.
Di sudut yang lain, Nardi (61) duduk di teras luar gedung sambil memandangi antrean pencari kerja. Dia datang ke Smesco untuk mengantar putri bungsunya ke Mega Career Expo.
”Anak saya, Indriani, ikut mencari pekerjaan di sini. Saya tidak tega kalau harus melepas dia pergi sendirian,” katanya.
Nardi yang merupakan pensiunan pegawai negeri ini sudah beberapa kali bolak-balik naik sepeda motor dari rumahnya di Pondok Gede, Bekasi, ke Jakarta untuk mengantar putrinya yang lulusan S-1 administrasi publik mencari pekerjaan di bursa kerja.
”Sekarang cari kerja lagi susah. Paling tidak dalam setahun terakhir ini sudah empat kali saya mengantar Indria mencari kerja. Dua kali di Smesco ini, sisanya mengikuti bursa kerja di Balai Kartini dan di gedung Kementerian Ketenagakerjaan. Mudah-mudahan anak saya beruntung di bursa kerja kali ini,” tutur Nardi.
Di tengah kondisi perekonomian negara yang sedang tidak menentu ini, mencari pekerjaan memang menjadi tantangan tersendiri. Menurut Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) saat rapat dengan Komisi IX DPR pada Selasa (14/4/2026), terdapat sekitar 3,5 juta pencari kerja baru masuk ke pasar tenaga kerja setiap tahun. Sementara kemampuan penyerapan tenaga kerja sangat bergantung pada kualitas pertumbuhan ekonomi.
Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya mampu menyerap 200.000 hingga 400.000 tenaga kerja, dengan angka tertinggi terjadi jika investasi didominasi sektor padat karya. Namun, jika investasi lebih banyak mengarah ke sektor padat modal, daya serap tenaga kerja bisa turun menjadi 100.000-200.000 orang per 1 persen pertumbuhan.
Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5 persen, total tenaga kerja yang terserap maksimal hanya sekitar 2 juta orang. Artinya, masih ada sekitar 1,5 juta pencari kerja yang tidak terserap setiap tahun (Kompas.id, 14/4/2026).





