Atasi Masalah Geopolitik Global, Megawati Usul Konferensi Asia-Afrika Jilid II Digelar

viva.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Konferensi Asia-Afrika (KAA) Jilid II didorong untuk dilakukan guna mengatasi goncangan geopolitik global yang saat ini terjadi. Hal itu diusulkan Presiden Ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

Megawati menjelaskan, dunia kini memerlukan pemikiran alternatif tentang bagaimana perdamaian bisa diwujudkan sehingga semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 sangat relevan untuk jadi jawaban atas tantangan kesetaraan antarbangsa.

Baca Juga :
Dubes Arab Saudi Temui Megawati, Minta Aktif Berperan soal Dinamika Timur Tengah
Momen Akrab Megawati dan Ramos-Horta di Teuku Umar, Intip Pembahasannya di Sini!

"Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika Jilid II sangat relevan. Di sinilah pemikiran geopolitik Bung Karno menjadi kompas bagi masa depan bangsa dan dunia," kata Megawati saat berpidato pada acara bertajuk "71 Tahun Peringatan KAA: Relevansi Gerakan Asia-Afrika dalam Krisis Geopolitik Saat Ini" di Sekolah Partai PDIP, Jakarta, Sabtu, 18 April 2026.

Megawati menyatakan bahwa ancaman neokolonialisme dan imperialisme masih bekerja dalam sifat dan corak yang berbeda pada era modern ini. Maka dari itu, menurut Megawati, Konferensi Asia Afrika Jilid II menjadi sangat relevan untuk menjaga kedaulatan bangsa-bangsa merdeka.

Selain itu, Megawati menyerukan perlunya reformasi total atau re-tooling terhadap Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingat struktur PBB saat ini sudah usang karena lahir dari konstelasi perang dunia II.

Megawati juga menyampaikan kembali gagasan Presiden pertama RI Soekarno yang mendesak untuk menghapus hak istimewa atau hak veto negara-negara tertentu yang dinilai menciptakan ketimpangan global. "Perlu ada perubahan Piagam PBB dengan memasukkan Pancasila sebagai landasan internasional," kata Megawati.

Megwati juga mendorong perubahan struktur Dewan Keamanan PBB hingga pemindahan Markas Besar PBB ke negara yang netral. Menurut dia, markas besar PBB harus berada di lokasi yang tidak menjadi bagian dari persaingan kekuatan besar atau perang dingin.

Menurut Megawati, reformasi itu mendesak mengingat situasi geopolitik dunia yang sedang bergejolak. Contohnya, dinamika politik Venezuela serta serangan terhadap Iran merupakan bukti bahwa sistem internasional saat ini sedang "goncang".

"Bung Karno menyerukan reformasi atau re-tooling PBB. Kesetaraan antarbangsa menjadi agenda terbesar Bung Karno," katanya. (Ant)

Baca Juga :
Hasto Ungkap Pertemuan Presiden Prabowo dan Megawati di Istana Merdeka, Ini Bocorannya
Intip Surat Megawati Beri Selamat ke Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran yang Baru
Isi Surat Megawati ke Pemerintah Iran, Sampaikan Dukacita Atas Tewasnya Ali Khamenei

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
JK soal Video Ceramah di UGM Dipotong: Mudah-mudahan Allah Memaafkan Pemfitnah
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
TNI Jelaskan Operasi di Papua dengan Tewaskan Warga Sipil Peristiwa Berbeda
• 4 jam laludetik.com
thumb
Korlantas Andalkan Teknologi Canggih Kelola Lalu Lintas Guna Pastikan Keamanan dan Kelancaran Kemala Run 2026
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Industri Berubah, Perempuan Jadi Penentu Transformasi
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Sekjen PWI Zulmansyah Sekedang Meninggal Dunia
• 16 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.