Penulis: Fityan
TVRINews – Teheran
Teheran tuntut blokade laut dicabut dan Washington hentikan tuntutan berlebihan.
Wakil Menteri Luar Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, melontarkan kritik tajam terhadap gaya komunikasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dikutip Turkey to day dengan tajuk Trump 'tweets a lot, talks a lot,' says Iran Deputy FM.
Khatibzadeh menggambarkan pesan-pesan yang keluar dari Gedung Putih sebagai rangkaian retorika yang membingungkan dan saling bertentangan.
“Presiden Trump banyak mencuit, banyak bicara,” ujar Khatibzadeh. Ia menambahkan bahwa inkonsistensi pernyataan tersebut kini menjadi beban bagi publik Amerika untuk menilai apakah ucapan pemimpin mereka selaras dengan hukum internasional atau tidak.
Kebuntuan Kerangka Kerja Negosiasi
Pihak Teheran menegaskan tidak akan terburu-buru menetapkan tanggal untuk putaran perundingan berikutnya yang semula dijadwal akan berlangsung akhir pekan ini.
Khatibzadeh menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah penyelesaian kerangka kesepahaman yang kuat agar pertemuan mendatang tidak berakhir sia-sia atau menjadi dalih bagi eskalasi konflik yang lebih luas.
Meski mengakui adanya kemajuan signifikan pada putaran pertama, ia menyalahkan kegagalan pencapaian kesepakatan pada apa yang ia sebut sebagai "pendekatan maksimalis" Washington.
"Iran tidak akan menerima untuk menjadi pengecualian dari hukum internasional. Kami memiliki tanggung jawab, namun kami juga memiliki hak," tegasnya, merujuk pada komitmen Iran di bawah naungan IAEA dan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT).
Penolakan atas Tuntutan Nuklir dan Blokade
Menanggapi klaim Presiden Trump mengenai pengambilan stok uranium yang diperkaya yang sempat dijuluki Trump sebagai "debu nuklir" Khatibzadeh secara tegas menolak kemungkinan pengalihan material tersebut ke Amerika Serikat.
Ia menyatakan bahwa pengaturan nuklir apa pun harus menghormati hak kedaulatan Iran.
Sikap konfrontatif juga ditunjukkan terkait blokade angkatan laut AS di pelabuhan-pelabuhan Iran. Teheran menyatakan blokade tersebut tidak sah dan merupakan bentuk sisa-sisa kolonialisme yang harus diakhiri.
"AS tidak dapat mendikte perintah kepada bangsa lain. Mereka tidak bisa memaksakan kehendak untuk mengepung Iran, sementara kami dengan niat baik mencoba memfasilitasi jalur aman di Selat Hormuz," lanjut Khatibzadeh.
Antara Diplomasi dan Ketahanan Militer
Berdasarkan laporan dari Tasnim News Agency, otoritas terkait di Teheran mengonfirmasi bahwa mereka telah menyampaikan pesan melalui mediator Pakistan mengenai penolakan Iran terhadap putaran perundingan kedua selama blokade laut dan "tuntutan berlebihan" Washington masih berlangsung.
Meskipun menekankan komitmen terhadap jalan diplomasi, Khatibzadeh menutup pernyataannya dengan peringatan keras mengenai kesiapan militer Iran jika agresi bersenjata kembali pecah.
"Kami akan membela diri secara heroik dan patriotik. Kami akan mempertahankan Iran hingga peluru terakhir dan prajurit terakhir yang kami miliki," pungkasnya. Bagi Teheran, meski perang dianggap tidak akan memberikan hasil positif, mereka tidak akan ragu merespons dengan kekuatan penuh jika kedaulatan negara terancam.
Editor: Redaksi TVRINews





