tvOnenews.com - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menarik perhatian publik melalui langkah inovatifnya dalam mengubah wajah Kantor Urusan Agama (KUA).
Melalui kunjungan yang dibagikan di media sosial pribadinya, Dedi Mulyadi menunjukkan komitmennya dalam mendorong perubahan pola pikir generasi muda terkait pernikahan.
Dalam kunjungan tersebut, Dedi Mulyadi berdialog langsung dengan pengurus KUA dan menanyakan jumlah pasangan yang menikah setiap bulannya.
Dari informasi yang didapat, rata-rata terdapat sekitar 40 pasangan yang melangsungkan pernikahan dalam satu bulan.
“Menurun? Berartikan orang sudah mulai mempertimbangkan pendidikan, kedewasaan, serta kemampuan keuangan,” ujar Dedi Mulyadi.
Pernyataan tersebut menyoroti fenomena yang mulai berkembang di masyarakat, di mana pernikahan tidak lagi hanya dipandang sebagai momen seremonial, tetapi juga sebagai keputusan besar yang memerlukan kesiapan matang, baik secara mental maupun finansial.
Tidak hanya berdialog, Dedi juga meninjau langsung fasilitas balai nikah yang tersedia di KUA.
Ia melihat masih adanya kekurangan dalam aspek kenyamanan, seperti keterbatasan daya listrik serta belum optimalnya fasilitas pendingin ruangan.
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Sebagai bentuk perhatian, Dedi berencana untuk meningkatkan fasilitas tersebut.
Ia menyatakan akan menambah daya listrik, memasang AC, serta bahkan siap menanggung biaya listrik agar pelayanan di KUA menjadi lebih nyaman bagi masyarakat.
Lebih jauh, Dedi Mulyadi juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang memaksakan diri menggelar pesta pernikahan besar meski kondisi keuangan belum memadai.
Ia mengonfirmasi hal tersebut kepada pengurus KUA, yang membenarkan bahwa fenomena tersebut masih sering terjadi.
“Banyak yang memaksakan untuk hajat, setelah itu malah bingung, akhirnya punya tanah sedikit dijual. Itu yang saya katakan kena gempa, Pak,” ujar pengurus KUA.
Dedi kemudian menjelaskan dampak panjang dari keputusan tersebut.
Menurutnya, tidak sedikit pasangan yang akhirnya menghadapi masalah ekonomi setelah pernikahan, bahkan berujung pada perceraian.
"Setelah itu anak perempuannya melahirkan. Kemudian laki-lakinya cerai karena alasan ekonomi atau kemudian punya yang lain, akhirnya si cucunya jadi beban ibunya," ungkap KDM.




