Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Barantin pastikan ekspor langsung ini pangkas biaya logistik hingga dua kali lipat dan percepat waktu kirim.
Badan Karantina Indonesia (Barantin) bersama Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah resmi melepas ekspor durian beku sebanyak 459 ton ke Tiongkok, di Palu, Sulawesi Tengah. Pengiriman bertajuk "Berani Ekspor Raya Durian" ini mencatatkan nilai ekonomi fantastis mencapai Rp42,5 miliar.
Kepala Barantin, Sahat M. Panggabean, menyatakan bahwa pelepasan ini merupakan buah dari perjalanan panjang diplomasi perdagangan. Akses langsung ini terbuka lebar setelah ditandatanganinya protokol ekspor durian beku antara Barantin dan Bea Cukai Tiongkok (GACC) pada Mei 2025 lalu.
"Keberhasilan menembus pasar Tiongkok adalah hasil kolaborasi petani, pelaku usaha, dan pemerintah. Hingga hari ini, total 151 kontainer senilai Rp377,5 miliar telah diberangkatkan ke Tiongkok," ujar Sahat dilansir dari laman resmi Badan Karantina Indonesia, Sabtu, 18 April 2026.
Pangkas Logistik dan Dukung Asta Cita
Ekspor langsung ini membawa perubahan signifikan pada efisiensi logistik. Jika sebelumnya pengiriman melalui negara ketiga seperti Vietnam atau Malaysia memakan waktu hingga 56 hari, kini durian Indonesia hanya butuh 22 hingga 26 hari untuk sampai ke Tiongkok.
"Biaya logistik terpangkas hingga 2 kali lipat dari sebelum ekspor langsung sehingga akan mendukung flowcash pelaku usaha. Adanya selisih cost bisnis yang terpangkas ini mendukung proses produksi bagi eksportir," tambah Sahat.
Langkah ini juga disebut sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo untuk memperkuat hilirisasi dan industrialisasi pertanian demi nilai tambah nasional.
Standar Ketat "Quick Freezing"
Untuk menembus pasar Tiongkok, durian yang diekspor harus melalui proses ketat. Produk berupa daging buah (pulp), pasta (puree), maupun buah utuh wajib melalui proses pembekuan cepat (quick freezing) pada suhu -30°C hingga suhu inti mencapai -18°C.
Varietas unggulan seperti Bawor, Super Tembaga, dan Namlung menjadi primadona. Dengan permintaan pasar Tiongkok yang mencapai USD 8 miliar (Rp128 triliun) per tahun, Indonesia optimistis mampu merebut 5-10 persen pangsa pasar dengan potensi devisa hingga Rp12,8 triliun per tahun.
Sulawesi Tengah Jadi Sentra Durian Dunia
Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, mengaku bangga karena durian asal wilayahnya kini memiliki nama sendiri di pasar internasional tanpa harus melalui perantara negara lain.
"Keberhasilan ekspor langsung ini tentunya menegaskan durian atau 'emas berduri’ asal Sulawesi Tengah sebagai representasi Sulawesi Tengah menuju raja durian di dunia," tegas Anwar.
Berdasarkan data Karantina, 7 dari 8 perusahaan pengemasan durian yang teregistrasi di sistem Tiongkok berada di Sulawesi Tengah. Secara populasi, wilayah ini memiliki 3,7 juta pohon durian, dengan sentra utama di Kabupaten Poso dan Parigi Moutong.
Editor: Redaksi TVRINews





