FAJAR, MAKASSAR — Kemenangan dramatis Borneo FC Samarinda atas PSM Makassar pada pekan ke-28 Super League 2025/2026 menjadi bukti nyata bahwa mental juara bukan sekadar slogan, melainkan kekuatan yang benar-benar hidup di lapangan. Bermain di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, Sabtu malam (18/4/2026), Pesut Etam sukses membalikkan keadaan dan menundukkan tuan rumah dengan skor 2-1 dalam laga yang sarat tensi dan determinasi tinggi.
Sejak peluit awal dibunyikan, kedua tim langsung menunjukkan intensitas permainan yang tinggi. PSM Makassar, yang tampil di hadapan pendukungnya sendiri, terlihat lebih agresif di awal laga. Tekanan yang mereka bangun sejak menit-menit pertama akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-16. Melalui skema serangan yang rapi, Jacques Medina mengirimkan umpan matang ke dalam kotak penalti yang disambut dengan sundulan tajam oleh M Arfan. Bola meluncur deras ke gawang Borneo FC dan mengubah skor menjadi 1-0 untuk keunggulan Juku Eja.
Gol tersebut semakin membakar semangat PSM. Mereka terus mencoba menekan pertahanan tim tamu, memanfaatkan momentum dan dukungan penuh dari suporter. Namun, Borneo FC menunjukkan ketenangan dan kematangan permainan. Alih-alih panik, mereka justru mulai membangun ritme permainan secara perlahan.
Upaya Borneo FC untuk bangkit akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-31. Juan Villa menjadi aktor utama dalam momen ini lewat eksekusi bola mati yang spektakuler. Tendangan jarak jauhnya meluncur dengan akurat dan tak mampu dijangkau kiper PSM. Gol tersebut tidak hanya menyamakan kedudukan menjadi 1-1, tetapi juga mengubah dinamika pertandingan secara signifikan.
Memasuki babak kedua, Borneo FC tampil lebih dominan. Mereka terlihat lebih percaya diri dalam menguasai bola dan mengatur tempo permainan. Sementara itu, PSM mulai kehilangan konsistensi, terutama dalam menjaga organisasi pertahanan.
Peluang emas sempat didapatkan Borneo FC pada menit ke-54 melalui Koldo Obieta. Ia berhasil menjebol gawang PSM, namun gol tersebut dianulir setelah wasit melakukan pengecekan VAR dan memutuskan bahwa Obieta berada dalam posisi offside. Keputusan ini sempat menahan euforia tim tamu, tetapi tidak mematahkan semangat mereka.
PSM pun mencoba merespons tekanan tersebut. Pada menit ke-58, mereka mendapatkan peluang emas melalui kerja sama apik antara Rizky Eka Pratama dan Alex Tanque. Sayangnya, umpan yang mengarah ke jantung pertahanan lawan gagal dimanfaatkan dengan baik, sehingga peluang tersebut terbuang sia-sia.
Pertandingan semakin memanas ketika Borneo FC kembali mengancam pada menit ke-62. Kali ini, umpan dari Obieta hampir berbuah gol, namun bola hanya membentur mistar gawang. Momen ini menjadi sinyal kuat bahwa gol kedua bagi tim tamu tinggal menunggu waktu.
Tekanan tanpa henti dari Borneo FC akhirnya terbayar pada menit ke-78. Dalam sebuah skema serangan cepat, Juan Villa kembali menjadi kreator dengan mengirimkan umpan tarik yang sempurna. Koldo Obieta, yang berdiri bebas di dalam kotak penalti, dengan tenang menyelesaikan peluang tersebut menjadi gol. Skor pun berbalik menjadi 2-1 untuk keunggulan Borneo FC.
Situasi semakin sulit bagi PSM Makassar setelah mereka harus bermain dengan 10 orang. Pada menit ke-85, Syahrul Lasinari menerima kartu kuning kedua yang berujung kartu merah. Keputusan wasit ini sempat ditinjau melalui VAR, namun tetap tidak berubah. Kehilangan satu pemain di menit-menit krusial membuat PSM semakin kesulitan untuk mengejar ketertinggalan.
Di sisa waktu pertandingan, PSM berusaha keras untuk menyamakan kedudukan. Mereka meningkatkan intensitas serangan meski dalam kondisi tidak ideal. Namun, solidnya pertahanan Borneo FC serta disiplin dalam menjaga lini belakang membuat setiap upaya tuan rumah selalu kandas.
Hingga peluit panjang dibunyikan, skor 2-1 untuk kemenangan Borneo FC tetap bertahan. Hasil ini menjadi sangat penting bagi Pesut Etam dalam perburuan gelar juara. Tambahan tiga poin membuat mereka tetap kokoh di posisi kedua klasemen dengan 63 poin, sekaligus memangkas jarak dengan pemuncak klasemen, Persib Bandung.
Di sisi lain, kekalahan ini menjadi pukulan bagi PSM Makassar. Mereka masih tertahan di peringkat ke-13 dengan 28 poin, posisi yang belum sepenuhnya aman dari ancaman papan bawah. Evaluasi besar jelas dibutuhkan jika ingin bangkit di sisa musim.
Kemenangan ini tidak hanya soal tiga poin bagi Borneo FC, tetapi juga tentang karakter dan mentalitas. Mereka menunjukkan bahwa tim dengan tekad kuat dan kepercayaan diri tinggi mampu membalikkan situasi sulit, bahkan di kandang lawan. Dengan performa seperti ini, peluang Borneo FC untuk merebut gelar juara tetap terbuka lebar, dan persaingan di papan atas Super League dipastikan akan semakin sengit hingga akhir musim.





