REPUBLIKA.CO.ID — FIFA mengkritik keras kebijakan otoritas transportasi negara bagian New Jersey di Amerika Serikat yang menaikkan tarif perjalanan menuju stadion Piala Dunia 2026 hingga 10 kali lipat. Tarif pulang pergi yang semula sekitar 15 dolar AS kini melonjak menjadi 150 dolar AS (Sekira Rp2,5 juta).
Kebijakan tersebut dinilai tidak realistis dan berpotensi merugikan penggemar. Apalagi, harga tiket pertandingan sendiri sudah sangat tinggi, bahkan bisa mencapai ribuan dolar di pasar sekunder.
Baca Juga
Presiden FIFA Klaim Iran Pasti Tampil di Piala Dunia 2026 Meski Konflik dengan AS Masih Berlangsung
FIFA Umumkan Daftar Resmi Perangkat Pertandingan Piala Dunia 2026
Iran Tunggu Keputusan FIFA Soal Pemindahan Venue Sebelum Putuskan Ikut Serta di Piala Dunia 2026
Stadion MetLife dijadwalkan menjadi tuan rumah delapan pertandingan, termasuk final pada 19 Juli 2026. Lonjakan tarif transportasi NJ Transit, mencakup bus dan komuter, dinilai akan menjadi beban tambahan yang signifikan bagi penonton.
Kepala Operasional Piala Dunia 2026 Heimo Schirgi menilai kebijakan ini berpotensi menimbulkan dampak luas. “Model penetapan harga NJ Transit saat ini akan memiliki efek yang mengerikan,” ujarnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia menegaskan, tarif tinggi akan memaksa penggemar mencari alternatif lain. “Tarif yang lebih tinggi pasti akan mendorong penggemar untuk mencari opsi transportasi alternatif,” kata Schirgi.
Menurut dia, langkah tersebut justru berisiko menciptakan masalah baru. “Ini meningkatkan kekhawatiran akan kemacetan, keterlambatan kedatangan, dan menciptakan efek domino yang lebih luas,” ujarnya. Ia menilai dampak akhirnya bisa mengurangi manfaat ekonomi dari penyelenggaraan Piala Dunia.
Schirgi juga menyindir kebijakan tersebut sebagai langkah yang tidak lazim. Ia menyebut penetapan harga yang melonjak tajam dan permintaan agar FIFA menanggung biaya sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi. “Tidak ada acara global lain yang menghadapi permintaan seperti ini,” katanya.