Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Bekasi
Sekolah Rakyat tidak sekadar mengasah kemampuan akademik siswa yang berasal dari kalangan kurang mampu. Ruang pengembangan minat dan bakat para siswa pun menjadi salah satu fokus dari Sekolah Rakyat.
Salah satu bukti nyata terlihat dari kegiatan kelompok ekstrakurikuler Taekwondo Sekolah Rakyat SRMA 13 Bekasi. Para siswa berhasil meraih prestasi dengan membawa pulang 2 medali emas, 1 perak, dan 1 perunggu dalam Bekasi Open III Taekwondo Championship 2026.
Medali tersebut menjadi capaian perdana bagi ekstrakurikuler Taekwondo di SRMA 13 Bekasi. Minat siswa di bidang seni bela diri didukung penuh oleh sekolah, mulai dari penyediaan seragam, pelatih, hingga pembiayaan kejuaraan.
Bagi Erin, Adestyawan, Halikinos, dan Fatan, kesempatan menyalurkan hobi di tengah pendidikan gratis menjadi pengalaman yang sangat berharga.
“Terima kasih Pak Presiden (Prabowo Subianto) karena sudah mengadakan Sekolah Rakyat bagi kami. Kami bisa menyalurkan hobi dan melanjutkan sekolah di sini,” ujar mereka.
Selain Taekwondo, kelompok pencak silat SRMA 13 Bekasi juga menorehkan prestasi dalam Kejuaraan Pencak Silat Candrabaga Cup 4 pada 7-8 Februari 2026. Dua siswa, Aca dan Jumaroh, berhasil meraih medali perak. Program ini dihadirkan atas permintaan siswa dengan mendatangkan pelatih dari luar sekolah.
“Kami bersyukur bisa bersekolah di sini karena selalu difasilitasi dan mendapat dukungan yang sangat kuat,” kata Jumaroh.
Prestasi lainnya datang dari kelompok seni tari yang meraih juara 3 dalam Lomba Pentas Seni Budaya Nusantara (Pesbura) tingkat Kota Bekasi pada akhir November 2025 lalu. Salah satu siswa mengungkapkan kegembiraannya atas dukungan penuh sekolah.
“Aku senang hobi aku didukung banget sama Sekolah Rakyat. Semua difasilitasi, jadi tidak bayar sama sekali,” ujarnya.
Kepala SRMA 13 Bekasi, Lastri Fajarwati, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat hadir untuk membuka peluang masa depan bagi anak-anak yang sebelumnya termarginalkan melalui pembinaan kedisiplinan dan sistem asrama.
“Tujuan Sekolah Rakyat ini sangat mulia. Negara hadir untuk masyarakat yang tidak mampu melalui bantuan jangka panjang. Anak-anak yang tadinya tidak punya peluang, kini memiliki kesempatan untuk sekolah seperti pada umumnya,” katanya.
Ia menambahkan bahwa peran guru, wali asuh, dan wali asrama sangat krusial sebagai pengganti orang tua dalam mendampingi siswa yang memiliki latar belakang kehidupan beragam.
“Tidak hanya guru, ada juga wali asuh dan wali asrama yang mendampingi. Mereka hadir sebagai pengganti orang tua,” tambahnya.
Senada dengan hal itu, wali asuh Arya Endang Purnama menekankan pentingnya pembentukan karakter dan keberanian siswa untuk memiliki cita-cita setinggi mungkin.
“Melalui mentoring, kami mengajarkan etika, perilaku, dan pembiasaan hidup, terutama dalam kehidupan berasrama dan berteman,” jelasnya.
Arya menceritakan momen menyentuh saat seorang siswa mulai berani mempertanyakan masa depannya.
“Ini pertama kalinya saya bertemu anak yang bertanya, ‘Emang saya boleh punya mimpi ya, Pak?’” ujarnya.
Ia berharap program ini terus berlanjut karena telah memberikan perubahan besar pada kepercayaan diri siswa.
“Saya berharap program Sekolah Rakyat ini dapat terus berlanjut dan semakin memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata dia.
Editor: Redaksi TVRINews





